Archive

Archive for the ‘Performance’ Category

Bahaya “FCR Terinvoice” pada Kemitraan Ayam Broiler

Kamis, 3 Maret 2011, 08.30 WIB.
Estimasi baca : 5 menit.

Dalam dunia bisnis ayam pedaging, ada variabel yang dinamakan FCR (Feed Conversion Ratio) yang menunjukkan besaran perbandingan antara jumlah konsumsi kumulatif pakan dibandingkan dengan rata-rata berat panen yang dihasilkan.

Dengan pengertian biologis seperti itu artinya konsumsi kumulatif pakan adalah sejumlah (100%) pakan yang benar-benar dikonsumsi oleh ayam yang akan dibandingkan dengan 100% hasil berat badan ayam.

Pada kenyataannya, dalam dunia kemitraan ayam pedaging yang “notabene” berangkat dari klausul perjanjian kerjasama harga kontrak sapronak dan harga garansi ayam hidup, variabel FCR ini sering menjadi area “permainan” oleh peternak maupun oleh pelaku kemitraan itu sendiri di tingkat operation di lapangan.

Alih-alih untuk mendapatkan “performance” yang baik, maka “kecerdasan” digunakan untuk mengutak-atik FCR. Bukan tanpa sebab, rendahnya FCR akan berdampak pada besaran nilai insentif yang akan didapatkan oleh peternak dan rapot yang “dikatakan bagus” bagi pelaku kemitraan di lapangan. Faktor inilah yang menjadi pemicu bermainnya “kecerdasan” dalam tanda kutip.

Bermainnya “kecerdasan” ini dilakukan dengan membatasi penggunaan pakan dari perusahaan kemitraan dan menambahkan “sekian persen” pakan dari sumber lain yang berkualitas berbeda dan harga yang juga pasti berbeda.

Hasil dari bermainnya “kecerdasan” inilah yang akhirnya memunculkan istilah “FCR Terinvoice” dan bukan FCR Biologis. Sehingga seringkali nampak bahwa performance ayam hingga umur 21 hari tampak biasa saja, tetapi setelah panen selesai, performance menjadi meningkat secara “Excelent” dalam tanda kutip.

Istilah “FCR Terinvoice” diterjemahkan sebagai konsumsi pakan kumulatif terinvoice dibandingkan dengan berat panen yang dihasilkan.

Di sisi peternak sebagai plasma dari integrator maupun di sisi pelaku kemitraan di lapangan, “permainan” ini memberikan keuntungan secara ekonomi dan non ekonomi. Tapi tanpa disadari sebetulnya “permainan” ini menyebabkan kerugian yang berlipat bagi perusahaan kemitraan itu sendiri. Kerugian tersebut adalah :
1. Perusahaan harus memberikan kepada peternak plasma berupa insentif FCR hasil dari “FCR Terinvoice” yang tidak wajar,
2. Perusahaan harus membeli ayam hidup dari peternak plasma dengan harga garansi sesuai perjanjian, padahal peternak menggunakan “sekian persen” sapronak yang bukan dari perusahaan kemitraan yang diikutinya.

Terlepas dari perdebatan yang menyatakan sama-sama untung bagi peternak, petugas maupun perusahaan, saya mencoba melihat dari sisi Akad (Klausul Perjanjian) secara tertulis hitam di atas putih.

Umumnya terdapat pasal yang menyatakan bahwa peternak harus menggunakan sapronak dari perusahaan inti dan tidak diperkenankan menggunakan sapronak dari sumber lain.

Pasal yang lain menyatakan bahwa perusahaan berkewajiban membeli kembali ayam hidup dari hasil pemeliharaan oleh peternak.

Pada posisi saat ini saya mempersilahkan Anda yang mengambil keputusan dan penilaian tentang “FCR Terinvoice” tersebut.

Saya teringat seorang rekan memasang status di Facebook yang kira-kira berbunyi “Sertakanlah hati dalam setiap tindakan yang kita lakukan, maka niscaya hasil yang indah dan bermakna akan kita dapatkan”.

Salam,

Di tulis dari Bumi Majapahit, Mojokerto, 22-08-2010.

Artikel telah terpublikasi di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2011

Posted with WordPress for Iyan’s JaveBerry.

Bahaya "FCR Terinvoice" pada Kemitraan Ayam Broiler

Kamis, 3 Maret 2011, 08.30 WIB.
Estimasi baca : 5 menit.

Dalam dunia bisnis ayam pedaging, ada variabel yang dinamakan FCR (Feed Conversion Ratio) yang menunjukkan besaran perbandingan antara jumlah konsumsi kumulatif pakan dibandingkan dengan rata-rata berat panen yang dihasilkan.

Dengan pengertian biologis seperti itu artinya konsumsi kumulatif pakan adalah sejumlah (100%) pakan yang benar-benar dikonsumsi oleh ayam yang akan dibandingkan dengan 100% hasil berat badan ayam.

Pada kenyataannya, dalam dunia kemitraan ayam pedaging yang “notabene” berangkat dari klausul perjanjian kerjasama harga kontrak sapronak dan harga garansi ayam hidup, variabel FCR ini sering menjadi area “permainan” oleh peternak maupun oleh pelaku kemitraan itu sendiri di tingkat operation di lapangan.

Read more…

2 Kunci Utama Mencapai Produktifitas Maksimal Ayam Petelur

Rabu, 2 Maret 2011, 17.45 WIB.

Kalimat filosofis yang layak kita ungkapkan terkait dengan Bisnis di Ayam Petelur adalah melalui 2 kunci utama, yaitu:
1. Berikanlah suasana yang nyaman bagi ayam untuk hidup
2. Berikanlah semua yang ayam butuhkan, maka
Tunggulah ayam akan memberikan apa yang kita butuhkan.

Kalimat filosofis tersebut muncul dari seorang pegiat di perunggasan yang kebetulan senang sekali untuk mengotak-atik “angka” performance produksi berdasarkan data-data di lapangan.

Berapa sebenarnya potensi produksi yang bisa diberikan oleh ayam untuk kita ?? Pertanyaan inilah yang sebaiknya kita jadikan pegangan dalam meng-evaluasi potensi genetis strain ayam komersial di Indonesia. Salah satu strain komersial mempublikasi bahwa potensinya adalah 351 butir atau setara 22,1 kg telur sejak umur 18 sampai 80 minggu. Strain lain secara kumulatif berselisih sedikit saja.

Celakanya, angka produktifitas yang tinggi tersebut sulit tercapai secara maksimal pada sebagian ayam yang dipelihara oleh peternak di Indonesia. Bilapun ada yang mampu mencapai tetapi proporsinya sangat kecil dari total populasi ayam yang diperkirakan mencapai 90 juta ekor di Indonesia.

Dari hitung-hitungan data yang berasal dari beberapa sumber ternyata pencapaian produksi maksimal hanya 19 kg telur/ekor/siklus (umur 18 sampai 80 minggu), artinya ada selisih 3 kg telur/ekor/siklus yang tidak diberikan oleh ayam kepada kita.

Benarkah hanya 19 kg telur/ekor/siklus ?? Silahkan Anda cek ke kandang Anda dan hitunglah secara kumulatif.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah potensi 22,1 kg telur tersebut dapat dicapai di Indonesia ?? Jawabannya saya kembalikan pada kalimat pembuka di artikel ini.

Bila kita mampu memberikan 2 kunci utama seperti pada kalimat pembuka artikel ini, maka angka minimal 21,5 kg telur dapat dicapai dari ayam yang dipelihara mulai umur 18 sampai 80 minggu.

Untuk memberikan 2 kunci utama tersebut tentunya bukan tanpa modal. Sebagai seorang pebisnis, kita tentunya berharap adanya tambahan hasil akibat adanya tambahan modal yang kita investasikan. Nah, kenaikan produksi dari 19 kg menjadi 21,5 kg tersebutlah yang menjadi dasar adanya tambahan tersebut.

Beberapa data yang cukup akurat dalam 3 tahun terakhir ini menunjukkan bahwa peningkatan produktifitas dapat dilakukan dengan memperbaiki sistem perkandangan. Kandang sistem Closed House adalah pilihan bijak untuk meningkatkan produktifitas ayam petelur di Indonesia.

Carilah team yang kompeten tentang Closed House untuk bisa membantu Anda agar investasi yang Anda tanamkan bisa memberikan hasil yang Anda harapkan.

Nah, apakah Anda tertarik untuk menggali informasi lebih detail ?? Dengan senang hati akan saya hubungkan dengan pihak yang lebih kompeten. Foto di atas adalah salah satu foto kandang Closed House di Jawa Timur.

Sampai jumpa..

Posted with WordPress for Iyan’s JaveBerry.

Rp. 400 Milyar/tahun uang peternak ayam petelur di Jatim hilang

Rabu, 2 Maret 2011, 09.30 WIB. — Berikut saya posting salah satu hasil diskusi via BBM antara saya dengan salah seorang pengusaha ayam petelur di Jawa Timur yang mendiskusikan tentang kehilangan performance dan nilai kerugian dari kehilangan performance tersebut.

———————————

Sopyan Haris: Tahukah Anda bahwa setiap tahun, minimal Rp. 400 Milyar uang peternak ayam petelur seluruh jawa timur hilang #dicuri. Dan #pencuri ini ada disetiap kandang ayam petelur di Jatim. #Pencurian ini dibuktikan dengan #performance yang maksimal hanya 19kg telur/ekor/siklus dari setiap ayam di Jatim. Dan telah ditemukan siapa #tersangka utama #pencurian tersebut.

Peternak Ayam: Sapa tersangkanya pak??

Sopyan Haris: Saya sedang #menyidik #tersangka ini, kalo nanti sudah menjadi #terdakwa akan segera disampaikan kepada seluruh pengusaha ayam petelur di Jatim. Sekaligus saya juga mendorong agar pengusaha bisa mempersiapkan #senjata untuk menghadang #tersangka ini

Peternak Ayam: Kayake kenaikan harga pakan ini tersangkae ?? Hahahahaha

Sopyan Haris: Jadi, potensi kehilangan uang ini bisa diwujudkan dalam bentuk #senjata ini

Sopyan Haris: Kayake kenaikan harga pakan ini tersangkae <<< tersangka yang sedang diperiksa sudah ada sejak ayam petelur belum masuk ke Indonesia. Sayangnya selama ini kita kurang #aware dengan keberadaan si #tersangka.

Sopyan Haris: Pertanyaannya nanti adalah : Apakah pengusaha petelur di Jatim berani memindah potensi kehilangan uang ini menjadi #senjata yang bersifat jangka panjang ??

Sopyan Haris: Untuk mendapat #Senjata ini pasti butuh uang, dan saya cukup optimis bahwa #uang untuk beli senjata ini bisa dikembalikan paling lambat dalam waktu 2,5 siklus

Sopyan Haris: Saya cukup yakin, ayam dikandang Andapun hanya mampu bertelur maksimal 19 kg/ekor/siklus dari umur 20 sampai 80 minggu.

———————————-

Bagaimana hasil penyelidikannya, tunggu pada posting selanjutnya.

Dishare saat on the way to Tanggul Jember.

Posted with WordPress for Iyan’s JaveBerry.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,292 other followers