Home > Bisnis Perunggasan, Broiler > Skenario Dasar Pola Kemitraan dalam Perunggasan Indonesia – “Sebuah upaya refleksi”

Skenario Dasar Pola Kemitraan dalam Perunggasan Indonesia – “Sebuah upaya refleksi”

Bapak, Ibu, Saudaraku….


Tentu Anda mengenal seorang sosok alumni Gadjah Mada yang bernama Ir. Dawami. Putra asal Surabaya yang cukup terkenal dalam dunia perunggasan di Indonesia. Beliau telah berhasil sebagai punggawa pola kemitraan (bapak angkat) dalam bisnis ayam broiler di salah satu perusahaan di Indonesia. Keberhasilan tersebut bukannya tanpa menghadapi tantangan, dan ternyata hambatan permasalahan tersebut menjadi sangat unik karena hanya terjadi di Indonesia.

Saya ingin mengupas seklumit dari apa yang beliau bangun dari sudut pandang Saya pribadi. Seklumit itu bukan berarti menyibak rahasia dasar yang tidak diketahui masyarakat (peternak) namun telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat (peternak) sekarang ini.  Sebuah prinsip dasar yang dinegara lain menjadi konsep yang dipertahankan karena asas win-win solution.

Pengetahuan dasar pola ini dibawa dari Negara tertangga, asal dari salah satu perusahaan perunggasan juga di Indonesia. Di Negara tersebut pola ini dibangun atas dasar saling percaya, saling menghargai, dan saling menguntungkan. Di Amerika sendiri, hampir semua peternak (farmer) mengikuti pola ini. Peternak menjadi bagian integral dalam sebuah system industri budi daya ayam pedaging.

Tidak ada kecurigaan peternak tentang kualitas sapronak yang dikirim dari perusahaan integrator ke peternak. Di sisi lain tidak adalagi kecurigaan integrator tentang kemungkinan adanya permainan (selisih) hasil produksi yang dilakukan oleh peternak.

Prinsip dasar yang dibangun di Indonesia tentang pola ini sebenarnya adalah sama dengan prinsip dasar yang dibangun juga di Amerika. Namun dalam pelaksanaannya, prinsip dasar tersebut sudah dinodai oleh prinsip ekonomi yang tidak pada proporsinya.

Dua kasus utama yang sering muncul dalam kemitraan di Indonesia:

  1. Adanya selisih antara input sarana produksi ternak dengan output hasil produksi.
  2. Adanya dugaan rendahnya kualitas sarana produksi ternak yang dikirim dari integrator ke peternak.

Kedua kasus utama tersebut diperparah dengan memudarnya semangat saling percaya, saling menghargai dan saling menguntungkan. Sehingga masing-masing pihak berusaha menyelamatkan asetnya masing-masing.

Di lihat dari sudut pandang yang lebih makro, sebenarnya pola kerjasama kemitraan seperti ini merupakan pola yang harus dikembangkan. Peternak yang memiliki kemampuan teknis, ketersediaan kandang, peralatan dan tenaga, banyak terkendala dengan sistem permodalan untuk mendapatkan sarana produksi. Perusahaan yang memiliki aset sarana produksi ternak dan teknologi budidaya, berusaha meningkatkan volume produksinya namun terkendala dengan terbatasnya sarana budidaya non-sapronak. Nah kedua kesulitan masing-masing ini bila dipertemukan akan menjadi satu hubungan yang saling menguntungkan. Sehingga secara nasional keberlangsungan produksi protein asal unggas di Indonesia tetap tersedia. Konsumsi protein terpenuhi dan kecerdasan bangsa meningkat.

Siapa yang salah dalam persoalan ini. Yang salah adalah kita-kita pelaku perunggasan sendiri. Penempatan prinsip ekonomi yang tidak pada proporsinya itulah yang menjadi sumber dari kekacauan system ini, dan yang membawa prinsip tersebut siapa lagi bila bukan kita yang membawanya masuk ke dalam prinsip kerjasama kemitraan.

Pada situasi akhir-akhir in, dengan harga sapronak yang membumbung tinggi dan belum diimbangi dengan harga komoditas hasil ternak yang sepadan, hampir pasti akan menyebabkan peternak mandiri gulung tikar. “Life must go on”, hidup harus tetap berjalan. Protein hewani asal unggas harus tetap ada. Peternak juga harus tetap hidup. Maka pola kerjasama kemitraan seperti ini akan menjadi alternatif pilihan terakhir untuk bertahan hidup.

Mari kita pertahankan pola ini.

Bila ada yang keliru dengan pengetahuan saya ini, sudi kiranya Ibu/Bapak memberikan koreksi.

Dishare oleh Sopyan Haris dari Bumi Mojopahit, Jawa Timur

  1. December 18, 2010 at 10:20 PM

    Ok Om.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: