Home > Bisnis Perunggasan, Broiler, Pangan > Kultwit lengkap tentang “Mengapa Harga Ayam Broiler Hidup masih jatuh di bawah BEP ??”

Kultwit lengkap tentang “Mengapa Harga Ayam Broiler Hidup masih jatuh di bawah BEP ??”

30 April 2011 | Kultwit lengkap tentang “Mengapa Harga Ayam Broiler Hidup masih jatuh di bawah BEP ??” di mention @SopyanHaris | Ada 25 tweets | Estimasi baca 5 menit| Have a nice time to read it…

Oleh : Sopyan Haris

1.
Met Siang tweeps, di hari senggang ini tidak ada salahnya kita sedikit meluangkan waktu untuk otak-atik sedikit mengapa harga ayam broiler hingga April 2011 masih rendah ?

2.
Otak-atik ini hanya sekedar sharing untuk mencoba menganalisa dari sedikit faktor yang kira-kira berpengaruh.

3.
Sudah menjadi fakta, sejak Des’ 10 – April’ 11 bahwa harga ayam broiler hidup di tingkat farm masih di bawah harga biaya produksi yang sering diistilahkan di bawah BEP.

4.
Sejak Des’ 10 – April’ 11 harga sapronak (khususnya Pakan) mengalami kenaikan yang cukup lumayan.

5.
Kenaikan harga pakan ini hampir pasti juga akan menaikkan biaya produksi ayam broiler hidup. Ingat, pakan berkontribusi lebih dari 70% terhadap BEP.

6.
Harga ayam broiler hidup di bawah BEP sangat jelas memberatkan peternak maupun integrator di Indonesia. Padahal harga daging ayam di pacar “becek” tetap saja stabil.

7.
Pabrikan sering dianggap sebagai biang keladi penyebab permasalahan ini. Benarkah ini ?

8.
Over populasi juga kerap dianggap sebagai pemicu-nya. Benarkah ?

9.
Bagaimana dengan jalur distribusi ? Struktur belanja -Spending money- masyarakat kita ? Maupun Lifestyle gizi masyarakat kita ?

10.
(Prediksi Data) Produksi DOC broiler Indonesia 30jt ekor/minggu. Angka ini dikalikan 52 minggu/thn didapat 1.560jt ekor/thn alias 1,56milyar ekor/thn.

11.
Angka 1,56milyar dikalikan 1,5kg ayam hidup per ekor didapat angka 2,34milyar kg ayam hidup (100%), dikurangi kematian 4% menjadi 2,25milyar kg ayam hidup/thn.

12.
2,25milyar kg ayam hidup/tahun dikalikan 70% untuk mendapat karkas, didapatlah angka 1,57milyar kg karkas ayam broiler/tahun.

13.
1,57milyar kg karkas ayam broiler/thn dibagi dengan 235juta jiwa penduduk Indonesia didapat angka konsumsi karkas 6,7 kg/kapita/tahun.

14.
Angka konsumsi karkas broiler 6,7 kg/kapita/thn dibagi 365 hari didapat angka 0,0183 kg/hari alias 18,36 gram/hari.

15.
Angka konsumsi karkas broiler 6,7kg/kapita/thn dikali harga karkas di pasar #becek Rp. 25.000/kg didapat angka Rp. 167.500/kapita/thn.

16.
Rata-rata Orang Indonesia mengeluarkan Rp. 167.500/kapita/thn untuk konsumsi karkas ayam broiler, tetapi….

17.
… tetapi lebih dari 150 juta orang pengguna handphone pasti belanja pulsa lebih dari Rp. 50rb/pengguna/bln alias lebih dari Rp. 600rb/pengguna/thn

18.
… dan lebih dari 20 juta orang Indonesia kelas menengah ke bawah #terpaksa harus membayar angsuran sepeda motor minimal Rp. 400rb/bln.

19.
Faktor #telekomunikasi dan #transportasi boleh jadi sebagian besar menyedot anggaran belanja keluarga Indonesia.

20.
Angka US $ 3000 income/kapita/thn orang Indonesia Tahun 2010 tidak terlalu significant mendongkrak anggaran belanja daging ayam broiler

21.
Lifestyle akibat #telekomunikasi dan #transportasi boleh jadi menjadi barrier bagi target peningkatan konsumsi protein daging dari ayam broiler.

22.
Tahun 2020 target konsumsi daging ayam broiler adalah 8 kg/kap/thn, dengan populasi penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 250 juta jiwa.

23.
Dari target konsumsi tsb artinya dibutuhkan angka produksi DOC ayam broiler sebesar 38juta ekor/minggu hingga tahun 2020.

24.
Jadi, benarkah populasi ayam broiler tahun 2011 ini sudah over sehingga menyebabkan harga ayam broiler hidup di Indonesia jatuh di bawah BEP ?

25.
Benarkah jatuhnya harga ayam broiler sampai April’ 11 di bawah BEP ini karena #dosa dari pabrikan ?

Dishare from Mojokerto Jawa Timur.

  1. May 3, 2011 at 11:45 AM

    Dear pak sophan,

    Terima kasih atas sharing bapak, yang telah membuat pikiran yg membaca lebih “open minded” dg permasalahan perunggasan saat ini.
    Data yg bapak sajikan sangat menarik dan akurasinya 90%, sy mencoba menganalisa dari poin. 20 : ” Angka US $ 3000 income/kapita/th orang indonesia tidak terlalu signifikan mendongkrak anggaran belanja daging ayam broiler”

    sy pernah membaca klo tidak salah data tersebut berdasarkan data IMF dan World Bank (mohon dikoreksi klo saya salah), dengan asumsi 1 USD: Rp. 8600, brarti minimal UMR/ upah buruh: 25,8 jt/th atau 2,15jt/bulan padahal kenyataan diindonesia UMR dibeberapa daerah belum sampai atau masi dibawah UMR.

    dasar Pendapatan per kapita suatu negara bisa dihitung dg 2 cara: PPP (power purchasing parity) dan nominal/GDP/Gross Domestic Product. Cara yg paling valid adalah PPP krn memperhitungkan living cost suatu negara (mohon koreksi klo salah pak), shg IMF dan World bank menyimpulkan rata2 angka income indo USD 3000/kapita/tahun.

    tapi kenyataannya penduduk dg gaji 1jt/ bulan dan pengangguran masih banyak, kesimpulan saya di indo itu ada segelintir org yg kaya banget tetapi mayoritas miskin sehingga klo dirata2 dapatnya USD 3000/th, krn ada faktor kesenjangan sosial yg cukup tinggi. Menurut sy perlu campur tangan pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan pengatur regulasi sbb:

    1. pemerintah harus berani ” menggorok” leher konglomerat, org kaya dan super kaya di indo ini buat subsidi silang masyarakat yg miskin dan super miskin, klo aturan ditegakkan yg dirasa akan ada kesejahteraan dan pemerataan.

    2. patok upah minimun sesuai GDP atau PPP dan kendalikan harga pasar (seharusnya undang2 th 2000 itu disempurnakan bukan dihapuskan untuk menghadapi “pasar bebas”), sehingga disini kepentingan produsen dan konsumen terakomodir. yang bikin tatanan rusak itu broker dan jaringan distribusi yg terlalu panjang. Disini tercermin dr harga ayam dikandang rusak tetapi harga dan permintaan dipasar becek stabil. siapa yg diuntungkan disini?

    3. kaitannya pemerintah sbg pengatur regulasi, bunga bank juga direndahin shg usahawan bs dapat modal mudah, itu akan membantu pertumbuhan ekonomi rakyat kecil.

    menurut sy sistem ekonomi negara kita ini udah sistem kapitalis , dimana harga dikendalikan pasar tanpa ada regulasi dr pemerintah. Produsen dibiarkan banting tulang sendirian, sementara broker mempermainkan harga, diperparah masih harus bersaing dengan produk impor, jadi secara ngga langsung kita dikondisikan secara “brutal” bersaing antara sesama warga negara (antar peternak pun jg ada istilah “banting cn”, bersaing menurunkan harga biar produknya bs dijual dipasaran yg nota bene kata broker: ” pasar lesu boss”, “sy dapat disana lebih murah boss”, “harga ngga kuat boss”, dsb. Harusnya kt bs berkompetisi secara sehat didalam negri dan secara “brutal” di luar negri dalam menghadapi pasar bebas, niscaya indo akan mampu mengekspor daging ayam ke luar negeri.

    intinya klo benar real income indo USD 3000/kapita/th, target konsumsi 6,7kg/kapita/th akan dg mudahnya terpenuhi, tidak akan ada lagi istilah over supply DOC krn pihak breeding berproduksi jg dg berpatokan pada angka2 tersebut. tinggal kita berharap kpd pemerintah, khususnya menteri pertanian, tinggal diam atau ikut andil sebagai penentu kebijakan dan pengatur regulasi.

    regards,
    yulia

    • May 3, 2011 at 8:57 PM

      Dear Ibu Yulia,

      1.
      Terima kasih dan penghargaan saya sampaikan pada Ibu atas kesediaan menyediakan waktu untuk menanggapi bahkan memberikan paparan lebih dalam tentang data income perkapita.

      2.
      Saya tidak tahu persis dari mana hitungan awal hingga didapat angka 3000, hanya selintingan yang saya dengar angkanya 3000 itu saja. Uraian Ibu Yulia justru menjadi masukan berarti bagi kita perihal dari mana angka itu berasal.

      3.
      Saya juga sependapat tentang “un-uniform” income per kapita tersebut. Sangat masuk akal bahwa 20% penduduk Indonesia memiliki pendapatan yang sangat tinggi sedangkan 80%-nya memiliki pendapatan yang medium bahkan mengarah ke rendah.

      4.
      Padahal, toch potensi market dari ayam broiler kita justru berada pada 80% yang berpendapatan rendah tadi, dan toch kelompok yang 20%-pun tidak mungkin mengkonsumsi 100 kali lipat dari konsumsi daging broilernya kelompok 80. Hitungan saya ini memang tidak tahu dari mana sumbernya, tapi logika saya mengatakan demikian.

      5.
      Persoalan menunggu kekuatan pemerintah ikut andil dalam menyelesaikan masalah ini, menurut saya justru akan buang waktu. Saya tidak melihat ada payung hukum yang “mengharuskan” pemerintah turut andil dalam lini budidaya ayam ras hingga sisi kontrol harga livebird.

      6.
      Pemerintah hanya memiliki kekuatan dalam pengaturan import GP atau GPS dengan kalkulasi sesuai dengan harapan/target konsumsi daging ayam broiler yang diharapkan. Walaupun kita tidak yakin “kontrol” itu tidak dijadikan ajang “jual-beli wewenang”.

      7.
      Dalam kondisi seperti saat ini, benar-benar hanya pihak yang memiliki kreatifitas tinggi dan mampu berproduksi secara efisien serta memiliki akses jaringan luas pada market serta mampu mengkreasi market sendiri-lah yang akan memiliki nafas panjang di tengah gelombang pasang-surut industri ayam broiler di Indonesia ini.

      8.
      Dengan kalimat yang agak berat saya pribadi terpaksa harus mengatakan kepada peternak atau pengusaha broiler bahwa “rengekan” kita tidak cukup keras untuk bisa di dengar oleh pemegang otoritas.

      9.
      Bila kita akan meninggalkan bisnis ayam broiler ini, maka yakinlah bahwa bisnis ini akan diambil alih oleh pihak lain dalam bentuk yang boleh jadi berbeda. CLQ dengan harga yang sangat murah dapat segera masuk hanya dalam hitungan waktu singkat bila supply daging broiler dalam negeri berkurang.

      10.
      Saat kita menjadi negara net importir daging broiler maka sektor pendukung lainnya juga akan kolaps, jutaan orang yang nasibnya tergantung pada sektor budidaya broiler juga akan kehilangan pekerjaan.

      11.
      Hikmah lain dibalik permasalahan ini adalah bahwa kita harus kembali membuka kran komunikasi yang baik dan elegan di antara seluruh stake-holder untuk sama-sama memikirkan permasalahan yang bersifat Nasional tentang bisnis ayam broiler ini. Saling menyalahkan tidak-lah memberikan solusi.

      Bu Yulia, demikian tanggapan saya kembali, sekali lagi terima kasih.

  2. May 1, 2011 at 11:24 PM

    Pak Sopyan,
    Luar biasa penjelasan bapak, tapi say belum menemukan solusi terbaik menurut pak sopyan untuk para peternak. Karena sebagian yang saya temui sudah collapse.
    Tetapi anehnya dipasar real harga ayam stabil, dan kalo dibilang lesu saya rasa tidak juga,mungkin ini kurang tepat karena survey saya hanya dilingkungan tukang sayur disekitar rumah. Jadi saya bertanya2 siapa yang menikmati keadaan ini.

    Warn Regards,
    Burghan

    • May 1, 2011 at 11:42 PM

      Dear Pak Burghan,

      1.
      Jangankan saya, pihak yang berwenangpun tak mampu memperbaiki kondisi untuk menguntungkan bagi peternak.

      2.
      Saya ingat bahwa sejak tahun 2000, Keppres Pola Pembinaan Budidaya Ayam Ras sudah dicabut, itu artinya pemerintah sudah tidak memiliki otoritas langsung dalam lini budidaya ayam ras.

      3.
      Dampak dari itu menurut saya adalah budidaya ayam ras sudah masuk pasar bebas, yang kuat silahkan bertahan, yang tidak kuat silahkan bersabar dengan nafas yang panjang.

      4.
      Pertanyaan Bapak sama seperti pertanyaan saya, harga broiler on farm jatuh tapi harga daging ayam di pasar becek tetap tinggi. Mengapa ?

      5.
      Saya melihat bahwa supply masih di bawah kebutuhan bagi end user, hanya “pipa” distribusinya terhambat di tingkat broker. Broker sangat mudah mendapat profit Rp. 1000/kg, tetapi peternak sulit sekali mendapat profit Rp. 500/kg.
      Warm Regard,
      Sopyan Haris

  3. May 1, 2011 at 9:26 PM

    Pak Sopyan,
    Terimakasih buat sharing-nya sangat bermanfaat. Kalo boleh tanya dan diskusi ada beberapa hal yang ingin ditanyakan:
    1. dari mana data yang diambil sehingga bisa menampilkan data tersebut?
    2.Kalo boleh menyimpulkan berarti, daya beli masyarakat untuk kebutuhan gizi dari ayam yang menurun,sehingga demand daging ayam rendah ya pak?
    3.Dengan demand yang rendah berarti kita harus membatasi supply,yang berarti mengurangi populasi doc adalah salah satu jalannya?

    Salam,
    Burghan

    • May 1, 2011 at 9:54 PM

      Dear Pak Burghan,

      Terima kasih sudah mampir di BLOG Perunggasan Indonesia.
      Berikut tanggapan saya :

      1.
      Data populasi penduduk 235 juta boleh jadi tidak tepat 100% seperti hasil sensus BPS terakhir.

      2.
      Data prediksi DOC Broiler di Indonesia sebesar 30 juta ekor/minggu boleh jadi-pun meleset. Tidak ada seorangpun yang mampu memastikan angka tersebut, tetapi hampir mendekati 95%. Namun demikian asumsi perhitungan hingga mencapai angka konsumsi menurut saya hampir mendekati. Fokus yang saya ulas adalah sebenarnya angka konsumsi itu masih cukup rendah bila dibanding dengan pengertian sebuah negara yang ingin bergerak maju.

      3.
      Saya tidak melihat adanya penurunan daya beli, tetapi yang terlihat adalah pengalihan alokasi anggaran belanja rumah tangga non-pangan.

      4.
      Pemikiran pemotongan produksi DOC juga terlontarkan dari beberapa pihak, tetapi upaya itu bertolak belakang dengan misi pemerintah untuk meningkatkan angka konsumsi daging ayam. Bila supply kurang maka boleh jadi akan ada masuk daging ayam broiler dari luar Indonesia.

      Salam,

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: