Home > Broiler, Pangan > Jangan Makan Sayap Ayam, Karena Di Situ Ayam Divaksin – ADALAH BERITA MENYESATKAN

Jangan Makan Sayap Ayam, Karena Di Situ Ayam Divaksin – ADALAH BERITA MENYESATKAN

Mojokerto, 10 Mei 2011, Estimasi baca 5 menit.

Jangan Makan Sayap Ayam, Karena Di Situlah Ayam Divaksin – ADALAH BERITA MENYESATKAN

Oleh : Sopyan Haris

1.
Beberapa waktu lalu sempat beredar Broadcast Message (BM) di BBM yang isinya adalah ajakan untuk tidak memakan sayap ayam yang katanya karena di sayap ayam lah vaksin dilakukan.

2.
Mendengar isi BM tersebut saya jadi jengah. Saya jadi heran, se”bodoh” itukah orang yang mengirim BM tersebut. Saya beranggapan bahwa BM hanya bisa dilakukan melalui BBM di Blackberry dan saya berasumsi bahwa pengguna Blackberry adalah orang-orang terdidik yang tidak mudah menerima informasi mentah-mentah.

3.
Sebagai orang yang setiap hari “bermain” dengan ayam-ayam, maka saya tergerak untuk menulis artikel ini. Semoga bisa menjadi bahan pencerahan.

4.
Ayam ras pedaging yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia 99%-nya adalah ayam broiler yang jumlahnya secara Nasional mencapai 1.560 juta ekor alias 1,56 milyar ekor (Tahun 2011).

5.
Sedangkan 1%-nya berasal dari ayam ras petelur afkir yang jumlahnya secara Nasional mencapai 100 juta ekor (Tahun 2011).

6.
Dalam pemeliharaan ayam ras broiler yang maksimal berumur 35 hari, dilakukan vaksinasi untuk mencegah munculnya penyakit. Vaksin yang diberikan adalah vaksin ND (Newcastle Disease), IBD (Infectious Bursal Disease) dan terkadang vaksin AI (Avian Influenza).

7.
Vaksin ND dan IBD tersebut umumnya berupa vaksin hidup yang diberikan ke ayam melalui air minum atau dapat juga lewat tetes mata/ hidung maupun cekok mulut.

8.
Vaksin AI dan dapat juga vaksin ND yang berupa vaksin mati (killed vaksin) diberikan ke anak ayam (DOC) melalui suntik (injeksi). Penyuntikan ini dilakukan secara sub cutan (bawah kulit) tepatnya di leher belakang di bawah kepala.

9.
Pemberian vaksin ND Killed atau AI Killed di leher akan merangsang seL T di produksi di Thymus untuk memproduksi antibodi terhadap penyakit ND atau AI (Sigit Raharjo, 2011).

10.
Sub cutan dilakukan di leher karena di situlah posisi thymus sebagai penghasil sistim imun (kekebalan) untuk mencegah ayam dari serangan penyakit, dan thymus ini hanya dimiliki saat masih sebagai anak ayam (DOC).

11.
Memang ada vaksin yang dilakukan dengan menusukkan di sekitar sayap ayam (Wing Web), tepatnya di antara pembuluh darah Vena Axillaris (Sigit Raharjo, 2011). Vaksin yang ditusukkan tersebut adalah vaksin FP (Fowl Pox) untuk mencegah serangan virus cacar ke ayam. Namun vaksin FP ini hanya diberikan kepada ayam ras petelur di umur 5 dan 10 minggu.

12.
Dan hampir pasti, ayam ras petelur yang masih berumur 5 atau 10 minggu tidak akan mungkin dijual dipasaran sebagai ayam untuk konsumsi yang akan diambil dagingnya.

13.
Ayam ras petelur yang dikonsumsi dagingnya, hampir 100% berupa ayam ras petelur afkir yang sudah berumur lebih dari 80 minggu (1,5 tahun lebih).

14.
Daging ayam ras petelur afkir ini lebih liat(keras) dibanding ayam ras pedaging (broiler) sehingga sebagian pedagang ayam menjadikannya sebagai pengganti daging ayam kampung yang jumlahnya sangat terbatas.

15.
Andaipun ayam ras petelur yang telah divaksin di sayap lalu dikonsumsi dagingnya saat afkir, tidak ada alasan kuat untuk melarang memakan bagian saya ini.

16.
Pada saat makan daging bagian sayap, kadang memang terlihat ada gumpalan hitam yang tidak enak dilihat. Gumpalan hitam tersebut sebetulnya adalah darah ayam dari luka di sayap akibat penangkapan ayam yang kasar saat akan dipanen. Gumpalan hitam tersebut bukan vaksin yang harus ditakutkan

17.
Jadi, kesimpulan 1. : berita jangan makan sayap karena di situ letak vaksin saya katakan sebagai berita yang MENYESATKAN.

18.
Kesimpulan 2 : boleh jadi berita tersebut punya misi politik gizi untuk menghambat masyarakat makan daging ayam, untuk menghambat perkembangan bisnis perunggasan, jangka panjangnya untuk menghambat perbaikan kecerdasan bangsa melalui protein hewani yang murah.

19.
Saran 1 : sebaiknya kita lebih selektif lagi dalam menerima informasi maupun menyebarkannya kembali.

20.
Saran 2 : bila memungkinkan, makanlah daging ayam bagian dadanya, karena kandungan protein di daging dada ayam lebih tinggi dan lebih bagus dibandingkan bagian paha maupun sayapnya.

21.
Di bagian dada ayam terdapat bagian otot daging yang umum disebut “sasami” merupakan bagian daging yang paling lezat di antara bagian lainnya.

22.
“Sasami” ini sangat lezat karena bagian ini merupakan otot ayam yang relatif tidak mengalami gerakan yang banyak seperti halnya otot paha maupun otot sayap.

23.
Tetapi andaipun karena selera Anda justru lebih suka makan daging ayam bagian paha atau sayap itupun sangat lebih baik daripada Anda tidak makan daging ayam sama sekali.

24.
Sekali lagi mari kita budayakan makan daging ayam. Daging ayam merupakan protein hewani yang paling murah dibandingkan dengan protein hewani yang lain.

Dishare dari : Mojokerto – Jawa Timur

Posted by. Sopyan Haris
with WordPress for Iyan’s JaveBerry.

Categories: Broiler, Pangan Tags: , ,
  1. October 8, 2014 at 12:31 PM

    Tambahin tombol twit dong Pak

    • October 26, 2014 at 1:41 PM

      Mas Didik…

      Maaf saya sdh pensiun dari Twitter.

      Salam

  2. May 12, 2011 at 11:42 AM

    mantap Bang, maju terus peternakan Indonesia🙂

    • May 13, 2011 at 7:01 AM

      Dear Pak Fiqrie..

      1.
      Terima kasih sudah mampir. Nanti saya sowan juga ke indovet.wordpress.com.

      2.
      Kondisi seperti ulasan di atas adalah “musuh” dari dalam masyarakat kita sendiri di saat kita berjuang untuk meningkatkan taraf konsumsi protein asal unggas.

      3.
      Jangan bicara dalam konteks perunggasan dunia, dalam konteks perunggasan Asia sendiri kita masih tertatih di tengah konstelasi persaingan di kawasan Asia.

      4.
      Kita punya pasar yang potensial dengan jumlah 235juta “mulut” yang setiap hari butuh makan. Pijakan konsumsi per kapita yang masih rendah mestinya membuka peluang cukup lebar untuk pengembangan saat ada target meningkatkan konsumsi menjadi 9kg daging unggas/kapita/tahun.

      5.
      Tetapi selalu saja “pukulan” datang bertubi-tubi menghantam perunggasan kita. Semoga pengusaha perunggasan kita semakin “taft” dalam menghadapi persaingan ke depan.

      Salam,

  1. January 5, 2013 at 7:52 PM

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: