Home > Layer, Performance > Bukti nyata kembali ditemukan bahwa uniformity body weight sangat penting di ayam petelur

Bukti nyata kembali ditemukan bahwa uniformity body weight sangat penting di ayam petelur

Bukti nyata kembali ditemukan bahwa uniformity body weight sangat penting di ayam petelur *

Oleh : Sopyan Haris **

Estimasi baca 10 menit.

Saat kembali sedang melakukan kunjungan ke salah satu propinsi yang menyandang predikat salah satu sentra ayam petelur di Indonesia, saya kembali menemukan bukti nyata bahwa uniformity (keseragaman) berat badan sangat penting dalam ayam petelur.

Cerita berawal ketika seorang kawan mengajak saya berkunjung ke salah satu farm ayam petelur dengan populasi lebih dari 200 ribu ekor. Untuk kepentingan privacy saya tidak menyebutkan nama farm maupun lokasinya.

 

Dalam perjalanan menuju lokasi kami bersanda gurau bercerita untuk saling mengenal. Ternyata beliau – main person in the farm – adalah kawan satu almamater di Gadjah Mada Jogja. Beliau seorang Dokter Hewan yang kebetulan ketika KKN merupakan “konco plek” alias temen akrab salah seorang adik angkatan saya yang kebetulan masih family dari Bupati di salah satu Kabupaten di Jawa -kala itu-. So…komunikasi kami cair sambil bercerita tentang pergerakan 1998 yang kala itu berhasil meminta Presiden Soeharto lengser.

Saat diskusi dalam perjalanan, kami tidak membicarakan persoalan ayam melainkan bernostalgia tentang masa-masa perkuliahan dahulu.

Diskusi kami tentang ayam baru terjadi saat benar-benar kami berada di lokasi farm. Saya langsung dibawa ke salah satu flock dengan populasi 40 ribu ekor. Di kandang tersebut, beliau melontarkan kalimat “Iki pitiku gak iso puncak, tulung sampean delokno masalahe neng endhi”. Lalu beliau menambahkan “Lagi pisan iki aku nemokno masalah koyok ngene, on set lay sesuai target, tapi sampek umur 27 minggu iki posisi isih 80% HD cenderung stagnan”.

Saat itu jam menunjukkan pukul 13.30 waktu setempat, sambil diskusi sejarah pemeliharaan pullet, kami berjalan ke 2 unit kandang yang masing-masing berisi 7500an ayam, saya berjalan perlahan sambil mengamati secara visual kondisi ayam.

Tampilan wajahnya ayam, perubahan warna paruh, perubahan warna ear lobe, perubahan warna pada shank ayam serta penyebaran telur di tiap-tiap battery yang berisi ayam. Sekilas saya tidak melihat ada tanda-tanda mencolok yang dicurigai berkaitan dengan kondisi kesehatan ayam. Saat petugas kandang mengisi memberi pakan, terlihat juga ayam langsung reaktif untuk memakan pakan yang diberikan.

Saya ingat, main person in the farm tadi menyebut bahwa %HD bertahan di 80% cenderung stagnan sedangkan umur sudah mencapai 27minggu. Pikiran saya langsung terfokus untuk menghitung bahwa minimal ada 10% ayam dalam kelompok tersebut yang belum mampu bertelur, pikiran saya langsung tertuju pada saluran reproduksi ayam-nya dan berbagai pertanyaan berkaitan dengan history saat masa remaja alias masa ABG.

Saya meminta ijin untuk melakukan penyembelihan dan pembedahan pada ayam-ayam yang dicurigai belum bertelur. Saya menduga bahwa ayam-ayam yang minimal 10% tadi belum memiliki saluran reproduksi yang sempurna, sehingga ayam tersebut belum bertelur.

Pada deretan battery, saya mencoba memilih ayam yang saya duga belum bertelur dengan ciri :

1.
Wajahnya masih cantik, earlobe-nya masih memiliki pigmen kuning.

2.
Paruhnya belum mengalami bleaching (pemucatan)

3.
Jenggernya masih berwarna merah cerah namun masih pendek, serta shank-nya masih belum mengalami bleaching (pemucatan).

4.
Saat didekati, ia cenderung gelisah dan tidak mengambil posisi seperti siap dikawini.

Selanjutnya ayam yang dicurigai tersebut dikeluarkan dari battery dan dicek tulang pubisnya, dicek sisa bulu primer runcing-nya dan diukur panjang shanknya.

Saat proses pembedahan, saya meminta penjelasan sejarah sejak DOC hingga pullet dari kondisi trend konsumsi pakan, trend pencapaian berat badan dan trend uniformity (keseragaman). Dan saat pembedahan memang kami menjumpai bahwa ayam yang dibedah tersebut belum memiliki saluran reproduksi yang belum sempurna (foto ada di atas).

Kasus tidak bisa mencapai puncak produksi saya duga berawal dari kasus under body weight dan kasus un-uniform (tidak seragam). Tetapi ternyata “on set laying” terjadi tepat waktu sehingga dugaan pada berat badan saya anggap gugur, dan saya terfokus pada dugaan un-uniform.

Gayung bersambut, main person in the farm menceritakan segalanya sejak DOC hingga pullet atas variabel-variabel yang saya tanyakan tadi (konsumsi pakan, berat badan dan uniformity) dan beliau-pun cukup yakin bahwa masalah utama adalah uniformity flock tersebut kurang optimal.

Pertanyaan selanjutnya adalah, lalu hal-hal apa yang menyebabkan uniformity berat badan itu kurang optimal ? Akhirnya pertanyaan itu terjawab sendiri oleh main person in the farm, pikiran beliau langsung tertuju pada konstruksi kandang, khususnya pada aspek lighting dan feeding equipment. Beliau menginstruksi kepada Head Flock dan team mekanik untuk menemukan penyebab masalah tersebut. Dan ternyata benar bahwa pada sebagian titik di kandang grower, aspek lighting dan feeding equipment memberi peran langsung terhadap kondisi berat badan dan uniformity yang kurang optimal.

Singkat cerita, memang permasalahan uniformity berat badan flock tersebut kurang optimal akibat lighting dan feeding equipment yang belum memberi kesempatan kepada ayam untuk tumbuh optimal. Perbaikan selanjutnya dilakukan dengan memperbaiki sistem lighting dan feeding pada periode selanjutnya. Sedangkan untuk kelompok yang belum puncak ini dapat ditunggu hingga umur 35 minggu, selanjutnya dievaluasi kembali status produksi di umur 35 minggu tersebut untuk selanjutnya dibuat keputusan.

Dari pengalaman lapangan tersebut dapat disimpulkan bahwa uniformity atau keseragaman berat badan memang memiliki peranan yang sangat penting untuk mencapai puncak produksi yang bagus. Memang tidak mudah untuk membuat ayam dalam flock 40ribu ekor memiliki berat badan yang uniform (seragam) tetapi dengan kembali pada manajemen pemeliharaan yang baik dan standar, maka harapan tersebut bukanlah omong kosong.

Kembali ditemukan bukti bahwa uniformity sangat penting dalam ayam petelur.

Ditulis saat di Palangkaraya, 22 Januari 2011

——————————

BLOG Perunggasan Indonesia mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Perunggasan di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.

Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email sopyanharis97@gmail.com dan akan diposting di BLOG Perunggasan Indonesia ini.

Mengutip motto dari @AkademiBerbagi bahwa “BERBAGI BIKIN HAPPY”. Jangan lupa follow @SopyanHaris di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020.

=============================

* Pengalaman Lapangan

** Konsultan Bisnis dan Teknis Perunggasan Indonesia

Posted by. Sopyan Haris
with WordPress for Iyan’s JaveBerry.

Categories: Layer, Performance
  1. February 9, 2012 at 3:37 PM

    Sesaat setelah artikel tersebut terposting di BLOG, seorang kawan dari propinsi lain menyapa saya lewat BBM dan memberi tanggapan.

    Untuk etika, saya tidak mencantumkan nama daerah maupun nama beliau. Sebut saja beliau bernama Si Mbak Yuko.

    Diskusi tersebut kira-kira seperti ini

    ==========================

    Participants:
    ————-
    -SopyanHaris, Si Mbah Yuko

    Messages:
    ———
    Si Mbah Yuko: \=D/(y)™‎\=D/sip(y)™‎\=D/sip(y)™‎\=D/sip(y)™ Si Mbah Yuko: ♧ ({})  †Ђåηķ ųδύ  ({}) ♧

    -SopyanHaris: Xie xie

    Si Mbah Yuko: Kalau ndek daerah sini yg trend terakir ini masalah penurunan produksi pak…

    -SopyanHaris: Wah jadi trend ?? Budaya dari negara mana tuch ??

    Si Mbah Yuko: Kayak arisan
    Si Mbah Yuko: Hampir semua kandang pasti mbethok

    -SopyanHaris: Kayak arisan <<< saling berkunjung ya ?? Berarti dia cukup sosial dengan sesama tetangga donkkk

    Si Mbah Yuko: ada satu ato dua kandang ato yg segenerasi yaaa
    Si Mbah Yuko: Pruduksi puncak ato menuju puncak. Tau tau drop sampe 40 %

    -SopyanHaris: Pruduksi puncak ato menuju puncak. Tau tau drop sampe 40 % <<< akibat apa ??

    Si Mbah Yuko: Kalo orang supplier xxx pasti bilang karena xxx

    -SopyanHaris: Apakah akibat Viral atau Parasit atau drop body weight ??
    -SopyanHaris: Kl orang supplier xxx pasti bilang karena xxx <<< ada bukti xxx hasil test dari dia ngga ??
    -SopyanHaris: Bukti kalo itu bener-bener xxx…

    Si Mbah Yuko: Yaaa gak ada

    -SopyanHaris: Jangan-jangan bukan xxx tapi yang lain

    Si Mbah Yuko: Ĥàá²..=)) Ĥàá²..=))‎Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))Ĥàá²..=D Ĥàá²..=)) Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))

    Si Mbah Yuko: Kl orang nutrisi pasti bilang pakannya kurang A, B, C,D
    Si Mbah Yuko: Tapi kl diurut kebelakang bener bilang e jenengan pak
    Si Mbah Yuko: Itu biasane terjadi pada ayam yg riwayat pulletnya kurang bagus
    Si Mbah Yuko: Body wight kurang,
    Si Mbah Yuko: Recording tercatat pernah kasus …
    Si Mbah Yuko: Ato pullet" kelas C

    -SopyanHaris: Itu biasane terjadi pada ayam yg riwayat pulletnya kurang bagus <<< apa bisa diselesaikan dengan senjata dari xxx tadi ?? Rasanya gak nyambung ya ??

    Si Mbah Yuko: Senjata xxx tadi gawe arem2 e ati НëнëнëX_XX_XнëнëнëX_XX_XнëнëнëX_X
    Si Mbah Yuko: Mbantu bakul xxx tadi jee
    Si Mbah Yuko: °ºqîiîkº♣=Dqîiîk=Dqîiîk°º……

    -SopyanHaris: Recording tercatat pernah kasus … <<< Memang harus terbuka, bukan mencari siapa yang bersalah tapi menemukan problemnya apa untuk perbaikan ke depan
    -SopyanHaris: Btw, trend kasus drop itu diikuti kasus Cacing ngga ?

    Si Mbah Yuko: Kalau liat kondisi lalat dimusim hujan gini ‎cacing pasti juga ditemukan
    Si Mbah Yuko: Sebagai gambaran…masalah produksi telor ini hampir rata dialami semua kandang pak
    Si Mbah Yuko: Kalau diroot rata2 ngalami penurunan 5-10% pak
    Si Mbah Yuko: Makanya saat ini hrg telor naik gak ketulungan Si Mbah Yuko: НëнëнëX_XX_XнëнëнëX_XX_XнëнëнëX_X

    -SopyanHaris: Makanya saat ini hrg telor naik gak ketulungan <<< supaya harga telur tetep tinggi, ayam dibuat jelek aja kalo gitu ya ??? Hehehehe

    Si Mbah Yuko: Ĥàá²..=)) Ĥàá²..=))‎Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))Ĥàá²..=D Ĥàá²..=)) Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))Ĥàá²..=))
    Si Mbah Yuko: Cocok cocok
    Si Mbah Yuko: Konsultane ben laris dipanggil kemana mana
    Si Mbah Yuko: °ºqîiîkº♣=Dqîiîk=Dqîiîk°º……

    -SopyanHaris: Konsultane ben laris dipanggil kemana mana <<< hidup di atas penderitaan orang donk ?? Ngga gitu laaahhhh

    =================================================================

    Demikian saya share-kan comment dari seorang kawan.

  2. insato2010
    January 29, 2012 at 9:15 PM

    Pak Sopyan, saat ini saya sudah memulai ternak ayam petelur dgn jumlah 280 ekor, Pullet (16 WOA) datang tgl 24 jan 2012, dan pada 3 hari pertama saya kasih lampu hemat energi (SL) sepanjang malam. Utk kandang ada di pekarangan rumah (open house). Yang ingin saya tanyakan :

    1- Berapa jam ayam membutuhkan cahaya dalam 1 hari?
    2- Apakah cahaya matahari saja sudah cukup? tanpa perlu tambahan cahaya lampu?
    3- Bila (memang) memerlukan lampu, jenis lampu apa yang cocok utk ayam?
    4- Apakan jumlah/lama pencahayaan berpengaruh terhadap produksi telur?

    Terima kasih🙂

    • January 29, 2012 at 9:57 PM

      Dear Bapak,

      Rekomendasi pencahayaan pada ayam petelur adalah 16 jam, itu bila produksi sudah 80% hingga afkir. Namun bila produksi belum mencapai 80% maka pencahayaan bertahap ditambah 1 jam hingga posisi akhir tetap 16 jam selama sehari semalam.

      Saat awal datang silahkan berikan 3 x 24 jam pencahayaan untuk penyesuaian dengan kondisi lingkungan kandang.

      Tidak ada rekomendasi khusus tentang jenis lampu, intensitas dan warna memang memberi pengaruh thdp produktifitas. Lampu berwarna merah dengan intensitas 10 Lux cukup membantu ayam selama masa produksi.

      Semoga membantu

  1. January 5, 2013 at 2:34 PM

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: