Home > Broiler, Performance > Cara Evaluasi Performance Broiler Sebelum Ayam Panen

Cara Evaluasi Performance Broiler Sebelum Ayam Panen

Cara Evaluasi Performance Broiler Sebelum Ayam Panen *

Oleh : Sopyan Haris **

Estimasi Baca : 5 menit

Kelihatannya tidak masuk akal dan untuk apa juga melakukan evaluasi performance sebelum broiler di panen.

Broiler Bati-Bati

Memang final dari performance pemeliharaan itu dihitung berdasarkan hasil panen. Secara kalkulasi, kombinasi semua faktor performance akan memunculkan Index Performance. Dalam index performance tersebut telah merangkum % daya hidup, rata-rata bobot panen, umur panen dan konversi pakan.

Tetapi saat masa pemeliharaan sebelum dilakukan panen, sebetulnya juga penting dilakukan evaluasi performance. Tujuannya adalah agar segera dilakukan perbaikan manajemen apabila ditemukan performance yang kurang baik.

Sebagai contoh, bila kita melakukan kunjungan ke kandang broiler yang berumur 14 hari dan akan melakukan evaluasi performance maka langkah-langkah berikut sebaiknya dilakukan.

1. Amatilah kondisi ayam secara umum, apakah ayam nampak aktif berjalan atau hanya diam.

2. Amatilah data rekording di kandang dan lakukanlah perhitungan terhadap 2 variabel utama, yaitu kumulatif feed intake dan % deplesi (kematian dan culling). Pada saat ayam belum proses panen, variabel FCR kurang memberikan makna yang berarti, cukup dihitung kumulatif feed intake sampai 14 hari. Feed intake kumulatif dihitung per ekor-nya sehingga angka yang muncul adalah dalam satuan gr/ekor bukan jumlah zak/kandang.

3. Lakukanlah sampling berat badan sebanyak 5% dari populasi 1 kandang atau minimal 100 ekor ayam, penimbangan dilakukan secara individu diambil dari beberapa sekat sudut kandang agar hasil cukup mewakili. Selanjutnya hitunglah rata-rata berat badan hasil sampling tersebut. Dapat juga dihitung uniformity, tetapi secara umum uniformity di broiler di bawah 70%. Uniformity lebih dominan diperlukan pada manajemen pullet maupun manajemen ayam petelur.

4. Bandingkanlah 3 variabel (% deplesi, feed intake kumulatif dan rata-rata berat badan) tersebut dengan STD Performance umur 14 hari dan amati selisihnya. Variabel FCR di sini kurang memberikan makna yang berarti, justru membuat evaluasi menjadi bias. FCR cukup dievaluasi pada akhir panen saja.

Apabila ke-3 variabel tersebut masih lebih baik atau mendekati STD maka kita cukup puas terhadap manajemen pemeliharaan selama 14 hari, selanjutnya tinggal mempertahankan agar hasil panen nanti tetap baik. DOC yang sub-optimalpun dapat mencapai performance 14 hari yang baik bila manajemen pemeliharaan awal-nya bagus.

Tetapi apabila salah satu faktor dari 3 faktor tersebut lebih buruk dari STD maka artinya ada sesuatu yang harus segera diperbaiki. Segeralah lakukan perbaikan pada aspek yang paling dekat dengan jangkauan kita. Misal Actual feed intake kumulatif hanya 400 gr/ekor, lebih rendah dari STD-nya yaitu 520 gr/ekor. Cobalah dievaluasi mengapa ayam hanya makan 400gr/ekor. DOC berkualitas “SUPER”-pun akan mencapai performance 14 hari yang buruk apabila manajemen 14 hari awal tidak memberi kesempatan ayam tumbuh dengan baik.

Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan feed intake di bawah STD :

1. Tempat pakan kurang, sehingga terjadi kompetisi antar ayam saat makan. Hitunglah perbandingan tempat pakan dengan jumlah ayamnya.

2. Terlalu cepat menggunakan alas feeder tube sehingga ayam kesulitan untuk makan.

3. Tempat pakan sering kosong akibat terlambat jadwal pemberian pakannya.

4. Evaluasi juga berapa feed intake dan berat badan pada 7 hari pertama.

Sering sekali kita berusaha melemparkan kesalahan pada pihak yang jauh dari jangkauan kita saat hasil akhir panen ternyata rugi. Bila boleh saya berpendapat, untung dan rugi tentunya itu berkaitan dengan harga. Sedangkan lini produksi itu berkaitan dengan performance. Nah fokus bagian produksi adalah mendapatkan performance yang semaksimal mungkin dengan menerapkan manajemen pemeliharaan yang optimal.

Kunci utama agar performance menjadi maksimal sebetulnya cukup simpel yaitu berikanlah apa yang ayam butuhkan. DOC dalam status optimal dan sub-optimal membutuhkan penanganan yang berbeda. DOC dengan strain X membutuhkan penanganan yang berbeda dengan DOC strain Y.

Pertanyaannya sekarang adalah apa sebetulnya yang ayam butuhkan ? Ketika kita tidak memahami “apa” yang ayam “butuhkan” maka jangan harap kita bisa mendapatkan “apa” yang ayam “berikan”.

Ditulis di Samarinda, Kalimantan Timur 02 Maret 2012

——————————

BLOG Perunggasan Indonesia mempunyai harapan untuk menjadi Pintu Gerbang Informasi Bisnis Perunggasan di Indonesia. Andapun dapat turut berbagi informasi sebagai kontributor di BLOG tersebut.

Bila Anda berkeinginan untuk saling berbagi ilmu dan pengalaman bisnis perunggasan, maka di sinilah tempatnya. Kirimkan artikel Anda melalui email sopyanharis97@gmail.com dan akan diposting di BLOG Perunggasan Indonesia ini.

Mengutip motto dari @AkademiBerbagi bahwa “BERBAGI BIKIN HAPPY”. Jangan lupa follow @SopyanHaris di http://www.twitter.com untuk selalu terhubung bersama mengkampanye protein hewani untuk menuju Indonesia Emas 2020.

=============================

* Salah satu manajemen pemeliharaan broiler

** Sastrawan Perunggasan, tinggal di Samarinda

Posted by. Sopyan Haris
with WordPress for Iyan’s JaveBerry.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: