Home > Bisnis Perunggasan, Konsultasi BBM > Membaca Peluang Bisnis Ayam Petelur

Membaca Peluang Bisnis Ayam Petelur

Membaca Peluang Bisnis Ayam Petelur *

Oleh : Sopyan Haris **

Estimasi baca 5 menit

(Banjarbaru, 5 Feb 2013) “Membaca” dalam artian kiasan ini merupakan satu kata yang cukup saya suka untuk menggalinya. Apalagi bila dikombinasi dengan kata “peluang”. Terkesan seperti meneropong tetapi kombinasi kata “membaca” dan “peluang” ini akhirnya dapat memicu otak kanan saya untuk memadukan informasi dan data yang saya ketahui menjadi sebuah kemungkinan-kemungkinan yang mempunyai nilai ekonomi. Bahkan rambut putih saya di sisi kepala bagian kanan lebih banyak dibanding sisi kiri, barangkali ini akibat aktifitas otak kanan tersebut.

 

Jumlah penduduk, perkembangan penduduk, pertumbuhan ekonomi, pendapatan per kapita, jumlah ayam petelur, produktifitas ayam petelur, angka konsumsi telur, kiranya merupakan beberapa variabel data yang dikombinasi akhirnya muncul pemikiran “Membaca Peluang Bisnis Ayam Petelur” dalam sebuah tulisan kecil ini.

Bicara dalam kacamata Indonesia, maka peluang ini sudah mampu diterjemahkan menjadi tindakan riil dalam bentuk investasi besar yang masuk ke sektor perunggasan dan secara regulasi pemerintah sangat memungkinkan bahwa pemain besar atau pemodal besar untuk masuk. Mari kita berkaca, pada skala berapakah kemampuan kita dibanding mereka ?? Bila kita mampu, maka silahkan saja sama-sama “bermain di kolam yang sama” tetapi bila tidak mampu maka ada baiknya kita “pindah di kolam yang lain”.

Dalam sekup wilayah yang lebih kecil lagi, maka hitung-hitungan peluang bisa dikatakan masih sangat terbuka. Saya berusaha tidak menyebut nama-nama kawasan yang coba kita bahas, tetapi pada akhirnya boleh jadi Anda akan mengetahui dengan sendirinya.

Andai Anda berminat melakukan investasi usaha ayam petelur di Propinsi X di Indonesia, maka satu rumus yang barangkali boleh saya ajukan di sini adalah “Berapakah jumlah penduduk di kawasan yang Anda minati tersebut? Nah 50% dari jumlah penduduk itulah maksimal jumlah ayam petelur yang boleh ada”. Namun suatu ketika Indonesia sudah menjadi negara maju alias “Developed Country” maka jumlah ayam petelur idealnya akan sama dengan jumlah penduduknya alias 1 ekor ayam petelur untuk 1 populasi penduduk.

Saya akhirnya menemukan rumus itu dari hasil kombinasi beberapa variabel data yang saya ungkapkan di atas. Barangkali menarik untuk “digugat” tentang validitas dari rumus itu namun akhirnya kita jadi hanya terjebak pada perdebatan sedangkan pihak lain sudah melakukan aksi investasi.

Seperti halnya dalam kacamata “politik bangsa” dimana waktu dan energi kita habis untuk selalu berdebat tentang sistem pemerintahan dan perpolitikan tetapi banyak bangsa lain yang akhirnya lebih maju dari kita karena mereka “bekerja membangun bangsa” sedangkan kita masih diskusi dan berdebat di atas meja. -Maaf kok jadi ngelantur-.

Berapa jumlah penduduk di wilayah yang Anda minati, sepertinya sangat mudah untuk mendapatkan data itu. Anda cukup pergi ke layar gadget dan melakukan “searching” jumlah penduduk maka akan muncul sekian banyak informasi dari berbagai sumber. Anda tinggal pilih informasi mana yang akurat dan layak dipercaya.

Berapa jumlah ayam petelur di wilayah yang Anda minati, boleh jadi Anda akan sulit mendapatkan datanya. Di sinilah letak “peneropongan” yang memungkinkan Anda akhirnya menemukan apakah masih ada peluang di situ.

Ada kawasan yang sama sekali tidak ada ayam petelur komersial di situ sehingga kebutuhan telur ayam harus didatangkan dari wilayah lain. Pada kawasan ini harga telur relatif stabil dan cukup tinggi. Ada juga sebuah kawasan yang secara ekonomi berkembang sangat pesat dan sudah memiliki sejumlah ayam petelur, tetapi kawasan tersebut masih mendatangkan minimal 7 kontainer tiap minggu dari wilayah lain (setara 15 ton tiap kontainer 20 feet) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi telur ayam.

Ada juga kawasan yang ternyata jumlah ayam petelur komersialnya lebih banyak daripada jumlah penduduknya dan kawasan tersebut memang sudah mendapat predikat sebagai sentra produksi telur. Pada kawasan tersebut fluktuasi harga telur sering terjadi. Kawasan tersebut banyak mengirim telur hasil produksinya ke kawasan lain di pulau yang sama maupun ke pulau lain.

Fluktuasi harga telur dapat terjadi dalam tempo harian. Bahkan di kawasan tertentu harga telur dipagi hari bisa berbeda dengan disore hari. Oleh karena itu di akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa sebaiknya Anda masuki kawasan yang masih memiliki potensi harga yang tinggi dan stabil karena hitungan analisa bisnis yang Anda lakukan akhirnya akan ditentukan oleh besaran investasi dan potensi profit akibat kondisi harga yang terbentuk.

Selamat membaca peluang..

==========================

*. Trik singkat membaca peluang

*. Sastrawan Perunggasan, kini tinggal di Samarinda

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: