Home > Bisnis Perunggasan, Konsultasi BBM > Pentingnya Konsultan Teknis dan Bisnis Perunggasan

Pentingnya Konsultan Teknis dan Bisnis Perunggasan

Pentingnya Konsultan Teknis dan Bisnis Perunggasan *

Oleh : Sopyan Haris **

Estimasi Baca 7 menit.

Secuil Tentang Dunia Perunggasan

Bisnis di bidang perunggasan di Indonesia ke depan masih memberi potensi peluang yang sangat besar. Kondisi ini didasari atas angka konsumsi perkapita penduduk Indonesia yang masih sangat rendah. Padahal perkembangan ekonomi, perkembangan pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi semakin tinggi, pada kondisi ini maka kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap telur dan ayam juga akan semakin meningkat.

Percaturan

Peluang yang terbuka tersebutlah yang akhirnya memicu masuknya investasi besar-besaran di bidang perunggasan. Investasi tersebut tersebar pada berbagai lini, dari lini hulu sampai hilir. Besaran investasi tersebut maupun siapa pelaku investasi tersebut, sepertinya memiliki karakteristik dan peta yang sangat unik.

Pada tulisan kecil ini saya tidak ingin mengulas perihal siapa dan berapa investasi yang ditanamkan oleh pelaku dan di mana investasi tersebut di tanamkan. Tetapi saya ingin membahas perihal pentingnya aspek teknis bisnis perunggasan.

Saya berpendapat bahwa bisnis di perunggasan adalah bisnis untuk mengambil manfaat dari suatu sistem biologi ayam. Bagi orang awam, ayam hanyalah seekor hewan peliharaan yang hidup dan harus makan lalu bertelur untuk menghasilkan anak ayam yang kadang dimanfaatkan oleh pemiliknya. Tetapi bagi pebisnis maka ayam merupakan suatu mesin pencetak nilai ekonomi yang sangat luar biasa.

Pada seekor ayam, dia memiliki potensi untuk menghasilkan sejumlah telur dalam rentang waktu tertentu dengan mengkonsumsi pakan sebanyak yang dia butuhkan, serta dia dapat tumbuh dan menjadi seekor ayam dewasa yang suatu ketika dapat diambil manfaat dagingnya. Ibarat sebuah mesin produksi, maka seekor ayam memerlukan sejumlah input bahan baku yang akan diproses oleh “mesin biologi” dan menghasilkan sejumlah output hasil produksi.

Dari pemahaman tersebutlah bagi seorang pebisnis bahwa ayam memiliki nilai hitungan ekonomi yang akan memberikan pundi-pundi ekonomi manakala di kelola secara baik dan efisien. Bagi seorang yang mempelajari ilmu ekonomi dan ilmu manajemen maka proses pengelolaan input dan output dilakukan secara teliti. Namun terkadang kendala pemahaman terhadap “mesin biologi” itu sendiri sering menjadi masalah.

Dalam pengelolaannya “mesin biologi” tersebut, dibutuhkan sebuah seni yang muncul dari proses mempelajari dan memahami karakteristik seekor ayam. Dari pemahaman terhadap seekor ayam itu maka proses duplikasi dapat dilakukan pada seribu, seratus ribu maupun jutaan ekor ayam dengan mengkombinasi pada pemahaman manajemen. Dengan begitu munculah istilah Manajemen Ayam Pedaging dan Manajemen Ayam Petelur.

Perlunya Konsultan

Sering saya lontarkan pada forum-forum formal maupun informal bahwa proses pengelolaan “mesin biologi” alias memelihara ayam adalah proses yang mudah yang tidak sesulit teknologi pembuatan roket. Proses pengelolaan “mesin biologi” pada ayam cukup hanya menerapkan prinsip memberikan seluruh yang dibutuhkan oleh ayam sehingga nanti ayam akan memberikan seluruh yang kita butuhkan.

Sekilas terdengar mudah prinsip tersebut dan nyatanya memang sangat mudah, khususnya bagi yang sudah cukup memahami karakteristik dan psikologi ayam. Tetapi bagi yang kurang memahami karakteristik ayam maka prinsip tersebut terkesan “nggerambyang” alias masih mengandung pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang sering terlontarkan adalah “lalu apa saja sich yang dibutuhkan oleh ayam ??”

Ketika sampai pada pertanyaan tersebut dan dikaitkan dengan prinsip ekonomi manajemen bisnis, maka di situlah kiranya diperlukan sebuah mentoring dari seorang konsultan teknis dan bisnis perunggasan. Upaya mentoring tersebut bertujuan agar proses bisnis mengambil manfaat dari “mesin biologi” ini dapat terjadi secara optimal.

Sebagai contoh bahwa tiap ekor ayam petelur, saat ini sudah memiliki potensi genetis yang sangat tinggi, dia mampu menghasilkan telur sebanyak 400an butir atau setara dengan 25,5 kg dalam 1 siklus sejak umur 18 minggu sampai 90 minggu, dan membutuhkan sentuhan-sentuhan manajemen bisnis manakala sudah berproses pada populasi ratusan ribu atau juta ekor.

Dalam dunia akademik, pembelajaran tentang perunggasan banyak dikaji di Fakultas Peternakan maupun sebagian kecil di Kedokteran Hewan. Pada Fakultas Peternakan, aspek budidaya, aspek nutrisi dan sosial ekonomi dikaji secara mendalam sehingga seorang Sarjana Peternakan yang memilih konsentrasi kepada Ternak Unggas relatif sudah memiliki basic “biologi ayam” yang mumpuni.

Dari lulusan Sarjana Peternakan inilah yang akhirnya banyak mengisi pos-pos pekerjaan sektor budidaya sebagai team produksi. Berbeda dengan Kedokteran Hewan yang relatif banyak pada sisi kesehatan unggas yang mampu mendiagnosa suatu kejadian permasalahan manakala kasus tersebut sudah muncul. Namun biasanya lulusan Kedokteran Hewan kurang mendalami aspek Nutrisi dan Manajemen. Walau demikian background Peternakan maupun Kedokteran Hewan ini sangat berguna pada kelangsungan proses produksi dengan “mesin biologi” ayam tersebut.

Realita dunia perunggasan saat ini bahwa pimpinan-pimpinan perusahaan atau pemilik dari sebuah bisnis perunggasan berasal dari background pendidikan bukan Peternakan atau bukan Kedokteran Hewan. Tidak sedikit yang berlatar belakang Ekonomi, Teknik maupun Keuangan yang akhirnya mengambil sektor perunggasan sebagai lahan bisnisnya. Tidak sedikit Sarjana Peternakan maupun Dokter Hewan yang masuk menjadi bagian team produksi di perusahaan tersebut namun pada umumnya terspesialisasi sesuai dengan bidang keilmuan yang dimilikinya saja. Nah pada dataran inilah peran Konsultan Teknis dan Bisnis Perunggasan memainkan peran yang penting.

Pada dataran tersebut, konsultan mempunyai peran sebagai mentor ataupun sebagai pencerah untuk memberikan saran-saran solusi atas permasalahan yang dihadapi saat proses produksi maupun putaran bisnis perunggasan itu berlangsung. Seorang konsultan dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh namun tepat sasaran sesuai permasalahan yang dihadapi. Dan tentunya konsultan ini harus berfikir independen dan memberikan solusi sesuai dengan kondisi realita yang dihadapi oleh klien-nya.

Dunia Konsultan Perunggasan di Indonesia

Belum menjadi sebuah kondisi yang umum tentang adanya Konsultan Perunggasan di Indonesia. Kondisi ini terjadi karena “awareness” terhadap ilmu perunggasan masih rendah. Pengetahuan tentang teknis budidaya unggas dianggap masih sebatas petunjuk yang bisa didapatkan dari mana saja. Tidak jarang dijumpai sebuah kasus berkaitan dengan manajemen pemeliharaan, lalu sang pemilik menyampaikan keluhan kepada supplier pakan atau DOC. Dari sang supplier mendiagnosa sekaligus memberikan saran perbaikan, namum kadang yang terjadi adalah tidak ada tindakan riil sesuai dengan saran yang diberikan. Ada kesan tidak memberikan perhatian atas saran-saran yang diberikan. Kasus seolah dibiarkan tanpa ada tindakan untuk memperbaiki.

Ketidakpedulian untuk memperbaiki kondisi ini boleh jadi karena saran perbaikan muncul tanpa harus di pemilik mengalokasikan anggaran seperti layaknya orang sakit yang pergi ke Dokter untuk memeriksa dan mengobati. Saat seorang sakit, dengan sukarela pergi ke Dokter untuk diagnosa dan akhirnya mendapat resep atau saran pengobatan. Kedatangannya ke Dokter bukan gratis tetapi harus mengeluarkan dana. Secara sugesti pasien akan mengikuti petunjuk Dokter karena pasien telah bersedia berkorban mengeluarkan dana.

Dari analogi demikian, maka kehadiran Konsultan Teknis dan Bisnis Perunggasan akan menjadi rujukan bagi pemilik bisnis unggas untuk membantu memberikan solusi-solusi atas masalah yang dihadapi. Kehadiran konsultan ini diharapkan oleh pemilik dan pemilik pun bersedia mengeluarkan investasi konsultasi dengan harapan ada tindakan pencegahan munculnya kasus sehingga potensi kerugian dapat ditekan. Secara mental juga bahwa si pemilik akan mengikuti arahan dari konsultan karena si pemilik merasa telah mengeluarkan sejumlah biaya konsultasi.

Di masa depan, Konsultan seperti ini akan diharapkan kehadirannya untuk turut menjaga mencegah potensi kerugian dari sebuah proses bisnis perunggasan. Tentunya Konsultan yang memiliki track record yang mumpuni dan memang secara riil sudah memiliki pengalaman teknis lapangan lah yang akan menjadi rujukan. Pada situasi tersebut maka kombinasi Science dan Seni akan semakin melengkapi dinamika bisnis perunggasan di Indonesia yang semakin kompetitif di masa depan.

=======================

*. Sebuah wacana

*. Sastrawan Perunggasan, kini tinggal di Samarinda – Kaltim

  1. January 3, 2016 at 7:29 PM

    pak mau nanya dikalimantan selatan tepatnya dimana pengusaha telur yang besar, bls ke email saya ya pak. terima kasih

    • March 26, 2016 at 10:34 PM

      Hampir semua terpusat di Kab Tanah Laut.

  2. October 14, 2013 at 9:36 PM

    Saya berkeinginan untuk mencoba pakan jadi pabrikan yang tidak perlu campuran jagung dan katul. Di daerah saya 2 barang tersebut akhir akhir ini jarang tersedia. Apakah Bpk mengetahui hasil telur dan performa ayam dengan menggunakan pakan jadi tersebut?

    • October 14, 2013 at 9:58 PM

      Pak Indra,

      Pakan komplit atau pakan konsentrat yang dicampur jagung dan katul sama baiknya selama kita yakin bisa kontrol stabilitas kualitas masing-masing bahannya.

      Saat menggunakan pakan komplit pabrikan maka fungsi kontrol tersebut sepenuhnya sudah berada di tangan QC pabrikan. Ada harga yang harus dibayar oleh peternak saat mengalihkan fungsi tersebut sehingga secara relatif harga per kg pakan komplit relatif lebih tinggi dibanding pakan hasil campuran.

      Selama selisih kemahalan harga tersebut mampu ditutupi dengan selisih kelebihan hasil produksi maka tutup mata bahwa itu adalah pilihan yang rasional.

      Masing-masing pakan komplit pabrikan juga punya karaketristik dan profile produksi yang berbeda saat diberikan ke ayam petelur. Dalam 3 bulan terakhir ini saya mengamati penggunaan pakan komplit brand tertentu mampu memberikan hasil yang menggembirakan. FCR harian berkisar antara 1.95 sampai 2.05 pada kondisi umur produksi puncak sampai akhir produksi.

      Namun demikian tetap harus berhati-hati dengan strategi marketing dari produsen pakan komplit yang stabilitas kualitas pakannya kurang teruji. Pada akhirnya ayam-lah yang akan memberikan buktinya kepada kita.

      Salam,

  3. October 14, 2013 at 12:03 AM

    Pak Sopyan, ada kah program kemitraan ayam petelur di daerah Malang, jawa timur?ada no tlpn Bpk yg bisa saya hubungi untuk konsultasi?

    • October 14, 2013 at 7:52 AM

      Pak Indra,

      Saya tidak tahu persis ada atau tidaknya penyelenggara kemitraan ayam petelur di Malang Jawa Timur.

      Pak Indra bisa konsultasi lewat email atau melalui Blog ini saja, biar topik konsultasi nya juga bisa menjadi bahan wawasan bagi yang lain.

      Salam,

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: