Home > Broiler, Kemitraan Broiler > Status Hukum Ayam Kost dan Dampaknya dalam Kemitraan Broiler

Status Hukum Ayam Kost dan Dampaknya dalam Kemitraan Broiler

Status Hukum Ayam Kost dan Dampaknya dalam Kemitraan Broiler [1]

Oleh : Sopyan Haris [2]

PENDAHULUAN

Sebuah judul yang mungkin terkesan terlalu mendramatisir atau ikut-ikutan dengan berita-berita di media masa akhir-akhir ini. Kata “Hukum” seperti sudah menjadi kata yang trend dalam waktu 5 tahun terakhir ini, dan kata “Hukum” ini berasosiasi dengan sebuah tindakan baik perdata ataupun pidana. Tidak terkecuali juga bila kata “hukum” coba dikaitkan dengan aspek perunggasan.

Salah satu aspek dalam dunia perunggasan khususnya di lini budidaya ayam broiler, dikenal sebuah konsep yang bernama “kemitraan”. Dalam pengertian bebas, “kemitraan” ini bermakna kerjasama antara 2 pihak yaitu perusahaan inti dengan peternak plasma. Kerjasama tersebut merupakan kerjasama untuk melakukan pembudidayaan atas sapronak (DOC, Pakan, Vaksin dan Medikasi) hingga menjadi ayam broiler yang siap dipanen.

Kost 01

SECUIL TENTANG KEMITRAAN

Bila dikaji lebih dalam, konsep kerjasama kemitraan antara inti dan plasma memiliki model yang beragam. Secara riil di lapangan inti dari kegiatan ini adalah kerjasama pembudidayaan atau kerjasama pemeliharaan, yang membedakan dari beberapa model yang ada adalah konsep tertulis dan perhitungannya. Boleh jadi perbedaan ini dikatakan perbedaan pada unsur perdata.

Salah satu model konsep kerjasama kemitraan yang sudah berlangsung cukup lama sejak sebelum krisis keuangan tahun 1998, kira-kira adalah sebagai berikut :

*.

Perusahaan inti bertanggung jawab untuk menyediakan sarana produksi (DOC, Pakan, Vaksin dan Medikasi) yang selanjutnya diserahkan kepada peternak plasma.

*.

Peternak plasma bertanggung jawab untuk menyediakan sarana dan prasarana kandang beserta perlengkapannya termasuk biaya operasional maupun tenaga kerja untuk melakukan budidaya pemeliharaan atas sapronak yang disediakan oleh perusahaan inti.

*.

Peternak plasma tidak diperkenankan menggunakan tambahan sapronak di luar yang sudah tertuang di perjanjian yang sudah di sepakati.

*.

Perusahaan inti berkewajiban untuk membantu memasarkan kembali seluruh hasil panen dari sapronak yang dibudidayakan oleh peternak plasma tersebut.

*.

Status sapronak yang didapat oleh peternak plasma adalah hutang dari perusahaan inti dengan diterapkannya harga beli kontrak. Sedangkan status ayam yang dipanen adalah piutang peternak plasma kepada perusahaan inti dengan diterapkannya harga jual bergaransi.

FENOMENA AYAM KOST

Perkembangan persaingan usaha perunggasan dalam budidaya ayam broiler secara tidak langsung menghasilkan kreatifitas di tingkat perusahaan inti maupun peternak plasma.

Dalam hal perhitungan pendapatan peternak, sumber perhitungan berasal dari selisih antara HUTANG SAPRONAK dengan PIUTANG AYAM HASIL PANEN dan tambahan dari INSENTIF PERFORMANCE. Bila hutang sapronak lebih kecil daripada piutang ayam maka posisi peternak akan mendapatkan hasil positif pendapatan (peternak untung), tetapi sebaliknya bila hutang sapronak lebih besar daripada piutang ayam maka posisi peternak akan mendapatkan hasil negatif pendapatan (peternak rugi).

Nah, konsep perhitungan ini membuka ruang celah bermainnya trik-trik untuk membuat HUTANG SAPRONAK lebih kecil dibanding PIUTANG AYAM. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menambahkan sekian persen sapronak (DOC dan Pakan) dari sumber lain dengan harga dan kualitas yang berbeda, tetapi peternak selanjutnya menjual ayam hasil pemeliharaan melalui perusahaan inti dengan harga garansi sesuai surat perjanjian.

Penambahan DOC dari sumber lain di luar yang disepakati pada surat perjanjian itu dikenal dengan istilah ayam kost. Pengertian ayam kost di sini adalah ayam yang ikut hidup di dalam kandang tersebut dan ikut makan tanpa membawa bahan pakan sendiri.Dampak dari adanya ayam kost ini biasanya adalah total deplesi (kematian dan culling) sangat rendah, pencapaian berat badan panen di bawah STD dan FCR membengkak sehingga Index Performance Kumulatif tergolong rendah.

Ironinya, tindakan untuk mencegah IPK rendah tersebut terkadang dilakukan dengan penambahan sekian % pakan dari sumber lain yang akhirnya memunculkan istilah “FCR Terinvoice”. Pada saat tersebut maka akan muncul performance yang dikatakan sebagai Performance Kamuflase. Performance Kamuflase ini merupakan performance palsu yang tidak menunjukkan secara rill pencapaian potensi biologis dari genetik broiler yang ada saat ini.

DAMPAK NEGATIF AYAM KOST  

Fenomena ayam kost ini tidak hanya berdampak pada perhitungan performance, tetapi juga dapat berdampak pada status kesehatan ayam. Banyak kasus penyakit ND maupun Gumboro pada broiler justru diakibatkan oleh tindakan ini. Terkesan memang kurang ilmiah untuk menjelaskan apa hubungan antara ayam kost dan kasus penyakit ND maupun Gumboro. Tetapi secara fakta, kondisi ini dapat terjadi.

Misal dalam kandang berpopulasi 5000 ekor, DOC sebanyak 50 box dikirim dari satu sumber yang sudah mendapatkan vaksin ND Killed dan ND Liive dari hatchery, dan tidak ada perlakuan re-vaksinasi di kandang. Selanjutnya terdapat ayam kost sebanyak 2 box (200 ekor) dari sumber lain yang belum diketahui historical vaksinnya hidup bersama dengan 5000 ekor DOC yang sudah mendapatkan vaksin.

DOC yang sudah mendapatkan vaksin dari hatchery akan memiliki kekebalan terhadap serangan virus lapangan yang sama jenisnya dengan virus yang di dalam vaksin. Sedangkan DOC yang tidak divaksin tidak mempunyai kekebalan, hanya kekebalan dari maternal antibody yang akan segera turun atau habis di minggu kedua. Selanjutnya DOC yang tidak divaksin bias terinfeksi virus lapangan pada usia di atas 2 minggu yang akhirnya menular pada DOC yang mendapat vaksin. Pada kondisi challenge lingkungan yang tinggi maka sangat mungkin terjadi outbreak penyakit ND pada kandang tersebut.

Kost 02

STATUS HUKUM

Kembali pada topik status hukum, maka fenomena ini harus dikembalikan lagi pada redaksional “hitam di atas putih” kesepakatan antara pihak inti denga pihak peternak plasma. Bila ada klausul yang menyatakan bahwa peternak plasma tidak diperkenankan menggunakan sapronak dari sumber lain, maka secara perdata bahwa ayam kost termasuk pelanggaran hukum.

Perihal adanya fenomena lain yang memotivasi munculnya fenomena ayam kost, itu menjadi persoalan lain yang harus dibicarakan dahulu dan dituangkan juga dalam klausul perjanjian. Seperti kembali pada uraian di awal bahwa perbedaan antara sistem kemitraan dan non-kemitraan adalah pada system perjanjian kerjasama. Sedangkan secara riil teknis di lapangan tidak ada perbedaan antara pemeliharaan dengan sistem kemitraan dan non kemitraan, perbedaan hanyalah pada  konsep tertulis dan perhitungannya.  Jadi perbedaan ini dikatakan perbedaan pada unsur perdata.

 

SOLUSI

Ada semacam anekdot yang menyatakan bahwa pelanggaran justru muncul setelah adanya peraturan. Tetapi bukan berarti bahwa peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Bila sudah dibuat klausul perjanjian kerjasama dan ada tindakan yang diluar klausul maka itu tergolong pelanggaran secara perdata. Tetapi bila dikehendaki bahwa tindakan tersebut bukan tergolong pelanggaran maka tidak perlulah dibuat sebuah klausul yang mengaturnya. Pilihan solusi tentang ayam kost kembali pada pelaku masing-masing. Sisi teknis dan non-teknis perlu menjadi pertimbangan untuk membuat solusi dari permasalahan ini.

Ditulis saat di Pontianak, 30 Juni 2012.

Telah dipublikasi di Majalah Poultry Indonesia, September 2012.


[1] Fenomena yang sering terjadi di lapangan

[2] Sastrawan Perunggasan, tinggal di Samarinda

Categories: Broiler, Kemitraan Broiler
  1. April 11, 2016 at 1:57 AM

    artikel lama baru dkasih ksmpatan baca hee, menurut sy nge-Kost juga bayar ibaratnya ayam numpang 200 kasih pakan dengan merk yg sama dan ukuran yg sama walau belinya di toko lain dan di jualnya ke bandar ayam potong

    • April 11, 2016 at 10:46 AM

      Kembalikan kepada klausul perjanjiannya, disitulah letaknya.

  2. May 24, 2014 at 2:24 PM

    selamat siang bapak, bagi bapak sendiri, manakah yang lebih bapak pilih? berusaha ternak mandiri atau secara mitra dengan perusahaan? apakah benar berusaha ternak mandiri hanya bisa dilakukan oleh seorang yang bermodal cukup besar? terima kasih bapak.

    • August 9, 2014 at 4:19 AM

      Selamat pagi mba Dila

      Maaf baru sempat reply karena sdg agak repot beberapa bulan terakhir.

      Maaf saya sulit menjawab dengan singkat pertanyaannya. Itu tidak dapat dilepaskan dari situasi dunia perunggasan yang sedang berkembang saat ini.

      Mandiri atau bermitra itu pilihan. Mandiri baik dan bermitra juga tidak buruk.

      Benar bahwa butuh modal tidak kecil untuk mandiri. Butuh modal minimal Rp. 25rb untuk tiap ekor broiler yang kita budidaya. Jadi bila kita akan bermain di populasi 100rb ekor maka butuh putaran dana minimal Rp. 2.5milyar per siklus produksi.

  3. May 24, 2014 at 2:21 PM

    selamat siang bapak. kalau bapak sendiri, jika memilih berusaha ternak mandiri atau secara mitra, bapak lebih memilih yang mana? apakah betul pengusaha ternak mandiri hanya bisa dilakukan oleh seorang yang memiliki modal yang cukup kuat? terima kasih bapak.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: