Home > Bisnis Perunggasan, Perunggasan Dunia > Ayam Bangkok dan Telur Bangkok

Ayam Bangkok dan Telur Bangkok

Ayam Bangkok dan Telur Bangkok [1])

 

Oleh: Sopyan Haris [2])

“Saat ini bisnis ayam petelur sudah seperti perang di samudera, dan sudah harus menggunakan kapal yang besar dengan teknologi yang juga bagus, tidak mau lagi menggunakan kapal kecil apalagi banyak bocornya. Belum sampai ketemu musuh malah sudah tenggelam lebih dahulu.”

Bulan Ramadhan 1433 H lalu kami berkesempatan untuk menghadiri International Poultry Health Management Workshop yang diselenggarakan oleh Novartis di Chatrium Riverside Hotel Bangkok – Thailand. Setelah 2 hari menjalani workshop, selanjutnya kami berkesempatan untuk melakukan farm visiting ke beberapa farm ayam petelur di Thailand. Farm visiting ini dilakukan atas inisiatif dari lembaga di mana kami bernaung yang dengan hubungan baik akhirnya kami memiliki akses untuk berkunjung ke farm.

bangkok 01

Tidak mudah untuk dapat berkunjung ke farm ayam petelur di Thailand, aspek bio-security sangat mereka jaga dengan baik. Ayam yang berada dalam kandang mereka anggap sebagai asset investasi yang harus dijaga dengan baik, apalagi apabila dikunjungi oleh tamu yang berasal dari negara yang masih bergelut dengan virus Avian Influenza.

Dengan hubungan baik B to B (Business to Business) dan tetap mengedepankan kaidah-kaidah bio- security akhirnya kami diberi kesempatan untuk berkunjung ke beberapa farm ayam petelur skala besar di kawasan Chonburi dan Chacengsao sebagai kawasan yang padat dengan populasi ayam petelur.

Ada satu pendapat dari salah satu pengusaha ayam petelur di Chacengsao yang sempat saya catat. Mereka menganggap bahwa saat ini bisnis ayam petelur sudah seperti perang di samudera, dan sudah harus menggunakan “kapal yang besar” dengan teknologi yang juga bagus. Mereka tidak mau lagi menggunakan “kapal kecil” apalagi banyak bocornya. Belum sampai ketemu musuh malah sudah tenggelam lebih dahulu. Cukup filosofis menurut kami.

bangkok 02

Merekapun sudah terbuka dengan pemahaman terhadap kondisi tahun 2015, yang bila mengikuti Bogor Goals hasil pertemuan APEC di Bogor pada tahun 1994 yang isinya adalah kesepakatan yang mengharuskan negara-negara berkembang menjadi pasar terbuka 20 tahun sejak Bogor Goals ditandatangani.

Sebagian pengusaha telur di Thailand sudah melirik Indonesia sebagai potensi pasar yang cukup menarik untuk “berjualan telur”. Motivasi ini boleh jadi muncul akibat faktor di atas dan faktor teknis yaitu produksi telur di Thailand yang sudah melebihi potensi genetik dari strain ayam komersialnya.

Pada ulasan di bawah inilah kira-kira oleh-oleh yang bisa saya bagikan kepada para pembaca dan para pengusaha ayam petelur di Indonesia.

 

Sudut Pandang Performance Kumulatif

Saat kita akan mengevaluasi performance produktifitas ayam petelur selalu dilihat pada variabel HH  (Hen Housed) Kumulatif yang berupa Egg Mass Cumulative, Egg Cumulative, FCR Cumulative serta % Live ability.

Untuk melihat angka tersebut maka kita harus memiliki Tabel Standar Performance dari strain ayam petelur yang ada di kandang kita. Anggaplah kita memiliki ayam petelur dengan strain “X” dan kita akan mencatat angka-angka dari ke-4 variabel performance kumulatif seperti yang disebut di atas.

Sudut pandang Performance Kumulatif ini pernah diulas dalam bahasan “Perspektif Performance Produksi” yang telah dipublikasi di Majalah Poultry Indonesia edisi terbit tahun 2012.

Sudut pandang Performance Kumulatif memang masih belum banyak dipahami dan digunakan oleh sebagian pengusaha ayam petelur di Indonesia. Umumnya masih terbatas pada perdebatan puncak produksi, lamanya puncak produksi dan awal bertelur.

Pada saat puncak produksi sedikit di bawah STD maka muncul sebagian judgment bahwa ayam tersebut jelek dan berusaha mencari pihak mana yang bisa dipersalahkan. Namun pada saat produksi setelah puncak dan % produksinya masih di atas STD, hal itu dianggap kondisi yang tidak juga lebih baik. Sehingga sudut pandang performance mingguan sangat bias untuk dijadikan alat evaluasi.

 

Kondisi di Thailand

Pengusaha ayam petelur di Thailand hampir semua sudah menggunakan cara evaluasi melalui pengamatan performance kumulatif. Mereka berpatokan pada 52 minggu umur produksi, atau dalam bahasa teknisnya adalah 52 WP (Week of Production). Minggu produksi ini ditentukan saat HD mencapai 2%.

Dari pengamatan ke beberapa farm besar di Thailand yang dimiliki bukan oleh perusahaan melainkan dimiliki oleh pengusaha-pengusaha lokal, menujukkan bahwa egg cumulative (produksi telur kumulatif) selama 52 minggu adalah 310 sampai 312 butir. Bila kita melihat STD egg cumulative salah satu strain ayam petelur komersial di Indonesia adalah 303 butir. Artinya bahwa mereka sudah mampu mendapatkan potensi genetik dari strain ayam komersial tersebut, bahkan lebih.

bangkok 03

Angka-angka di Tabel Standar Performance bukanlah angka yang tidak masuk akal melainkan angka yang sangat mungkin dicapai. Pertanyaanya adalah bagaimana mereka melakukan itu. Secara pribadi saya tidak melihat sebuah trik yang jauh berbeda dari yang kebanyakan dilakukan di Indonesia. Hanya saja mereka sudah masuk ke tahap aplikasi teknologi sedangkan di Indonesia masih di level perdebatan pola manajemen mana yang paling baik.

Beberapa hal kunci yang mereka lakukan :

1. Kembali ke basic manajemen dalam hal bio-security kandang maupun lingkungan di sekitarnya. Kebersihan di kandang maupun lingkungan sekitar kandang dipercaya mampu menurunkan potensi masuknya penyakit. Ini agak berbeda dengan kondisi di Indonesia yang cenderung masih bersahabat dengan kotor, bau dan lingkungan yang semrawut serta berserah diri pada antibiotik sebagai penghadangnya.

2. Penggunaan kandang Closed House yang dipercaya mampu memberikan kondisi micro climate di dalam kandang yang mendekati dengan kondisi yang dibutuhkan ayam dalam hal suhu efektif dan ventilasi udara. Suhu efektif berbeda pengertiannya dengan suhu yang terbaca di alat. Diskusi tentang perbedaan ini lebih dalam pada diskusi tentang perkandangan sistem Closed House.

3. Stabilitas penggunaan bahan pakan. Naik turun harga pakan atau harga telur mereka anggap sebagai faktor luar yang tidak dijadikan alasan untuk segera mengganti pakan menyesuaikan dengan kondisi harga. Dan memang pada dasarnya tindakan sering menganti-ganti pakan akan berdampak pada kondisi mikrobia pencernaan yang tidak stabil, akibatnya performance produksi juga berubah.

4. Perbaikan pada manajemen pullet. Sudah disadari bersama bahwa kondisi pullet (ayam dara) juga merupakan pondasi dasar yang tidak boleh dianggap main-main. Mereka selalu melakukan inovasi untuk tujuan mendapatkan  pullet yang berkualitas.

Konon, konsumsi telur perkapita penduduk Indonesia yang masih di bawah 90 butir/tahun dengan tingkat pendapatan perkapita US$ 3300 dan pertumbuhan ekonomi minimal 6% sudah dibaca oleh pelaku industri telur sebagai sebuah pasar yang sangat menggiurkan.

Walaupun populasi ayam petelur di Thailand hanya sekitar 35% dari populasi ayam petelur di Indonesia, namun kesiapan mereka untuk memasuki kawasan perdagangan bebas regional maupun global sudah jauh lebih siap dibanding dengan pengusaha ayam petelur di Indonesia.

Jadi, kalo sampai saat ini kita mengenal Ayam Bangkok yang disebut sebagai jagoan ayam petarung di Indonesia, apakah akhirnya kita harus menerima Telur Bangkok yang dimungkinkan masuk saat pintu potensi itu terbuka ??

 


[1] Artikel telah disampaikan kepada Majalah POULTRY INDONESIA

[2] Sastrawan Perunggasan Tinggal di Samarinda

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: