BLOG Perunggasan Indonesia di Telegram (TG)

Makin meningkatnya kecepatan informasi makin membuat kita untuk cepat reaktif atas perkembangan informasi juga. Sejalan dengan itu, BLOG Perunggasan Indonesia mencoba hadir di Telegram (TG) untuk mempercepat komunikasi dengan para Blogger Unggas maupun para pembaca BLOG Perunggasan Indonesia.

Di Telegram bisa langsung diskusi interaktif dengan admin, termasuk juga membuka Ruang Konsultasi.

Silahkan add user @sopyan97 di Telegram (TG) untuk mengawalinya.

 

Salam,

Categories: Others Tags: ,

Mengapa ayam petelur umur 19 minggu belum bertelur ???

November 12, 2014 15 comments

Berikut diskusi lain di BBM.

===============================

Participants:
————-
– Sopyan Haris Ortega *ID* *TH*, BLOG Robiul Fajar

Messages:
———
BLOG Robiul Fajar:
Pak mau bertanya, kalo ayam layer sampe umur 19 minggu belum bertelur jga, karena faktor ap ?

– Sopyan Haris Ortega *ID* *TH*:
Terlambat dewasa kelamin alias saluran reproduksinya blm berkembang dengan sempurna

BLOG Robiul Fajar:
Cara mengatasinya gmna pak ?

– Sopyan Haris Ortega *ID* *TH*:
Beri kesempatan agar saluran reproduksinya berkembang dengan baik saat “masa perkembangannya” tersebut. Yaitu rentang waktu antara umur 13 sampai 17 minggu.
– Sopyan Haris Ortega *ID* *TH*:
Dengan cara :

#1.
Hanya boleh diberikan pakan grower yang sangat cocok dan tepat bagi rentang umur tersebut, contoh pakan 522 atau 322 K

#2.
Jangan bikin ayam menjadi stress saat rentang umur tersebut karena ayam yang stress akan menganggu perkembangan saluran reproduksinya.

#3.
Cek dan evaluasi kembali tindakan apa saja yang membuat ayam stress di umur tersebut, dan segera lakukan perubahan.
– Sopyan Haris Ortega *ID* *TH*:
Coba bedah 1 atau 2 ekor ayam yang jenggernya masih kecil atau berat badannya di bawah 1.6kg. Dan lihat kondisi saluran reproduksinya, seberapa berkembangnya saluran tersebut ??

Categories: Konsultasi BBM

Mampukah Ayam Broiler Mencapai 1.6 kg/ekor dalam 28 hari

November 6, 2014 5 comments

Mampukah Ayam Broiler Mencapai 1.6 kg/ekor dalam 28 hari ??

(Rumus 28 = 1.6 –> 50 = 33) *)

 

Oleh : Sopyan Haris **)

 

Bahasa Lapangan

Anda mungkin sempat berfikir rumus apakah itu. Bagi Anda yang “bermain” di kemitraan ayam broiler tentu tidak asing dengan hitungan-hitungan seperti itu. Dalam hitungan simpel di lapangan, sering terlontarkan “berapa kilogram daging broiler hidup yang dihasilkan dari satu karung pakan yang dikonsumsi ?”. Dalam hitungan matematis adalah 50 kg pakan –> menghasilkan berapa kg ?

¬† Read more…

Categories: Broiler, Performance Tags: ,

Cara Menghitung Keseragaman Berat Badan di Ayam Petelur

November 5, 2014 64 comments

Cara Menghitung Keseragaman Berat Badan di Ayam Petelur 1)

Oleh : Sopyan Haris 2)

Layer-Closed-House-Eastern.jpg

Tanjung | 05 November 2014 |

Dalam manajemen ayam petelur, keseragaman berat badan tiap minggu di umur DOC sampai awal produksi sangat penting untuk mencapai puncak dan stabilitas produksi telur.

Bagaimanakah cara menghitung keseragaman berat badan dari kelompok ayam-ayam yang kita miliki ??

Berikut saya sharing langkah-langkah mudahnya :

Read more…

Categories: Layer Tags: ,

Membaca arah masa depan bisnis daging ayam di Indonesia

December 3, 2013 4 comments

Membaca arah masa depan bisnis daging ayam di Indonesia

Oleh : Sopyan Haris

Estimasi baca : 1 menit

Barangkali itu sebuah judul yang terkesan terlalu jauh untuk dipikirkan karena memang itulah ciri kita sebagai orang Indonesia yaitu selalu “Rabun Jauh” dalam membaca masa depan.

Tapi saya cukup yakin, banyak para pelaku di bisnis daging ayam di Indonesia yang sudah mampu membaca peluang itu. Tapi saya yakin juga masih lebih banyak yang belum mampu membaca masa depan itu.

Tahun 2015, ketika ASEAN Economic Community dibuka dan ketika tahun 2020 kesepakatan APEC yang ditanda-tangani di Bogor jaman Alm. Presiden Soeharto akan berlaku, maka konstelasi persaingan industri daging ayam di Indonesia sudah akan berubah drastis.

“Paha putih” yang saat ini masih mengapung di kontainer di lautan tidak bisa lagi dibendung untuk singgah di Tanjung Priok maupun Tanjung Perak. Karkas ayam ilegal dari Entikong yang masuk ke KalBar tidak akan lagi dikatakan ilegal.

Obama yang sudah berjabat tangan dengan Takmir Masjid Istiqlal di Jakarta, menyiratkan makna bahwa ayam yang disembelih di Amerika sudah dianggap halal, jadi tidak ada alasan lagi Indonesia menolak “paha putih” dari Amerika dengan alasan tidak halal.

Sedangkan kita di Indonesia masih “bertengkar” dengan kawan sendiri mengamankan “periuk” masing-masing. Padahal pelaku dari Negara lain sudah siap-siap akan mengambil “periuk” kita semua.

Mengapa bertengkar ? Bisa jadi karena kita masih “Rabun Jauh” dengan arah masa depan bisnis daging ayam di Indonesia ke depan. Dan pertengkaran itu justru bukan salah satu dari kita yang menjadi pemenang tapi kita semua akan kalah dan mereka-lah yang menjadi pemenang.

Oleh karena itu, masih-kah kita akan tetap konsisten dengan penyakit “Rabun Jauh” itu ??

Sastrawan Perunggasan